Polusi Udara Kian Mematikan karena Kebakaran Hutan, Korban Jiwa 3.560 Orang

Hari Widowati
29 Oktober 2026, 13:33
polusi udara, kebakaran hutan, karhutla, kualitas udara
ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar
Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Polusi udara di Indonesia kian mematikan karena dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Laporan terbaru Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan angka kematian akibat polusi udara terkait kebakaran hutan dan lahan mencapai 3.650 jiwa per September 2026. 

Angka tersebut melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan estimasi Agustus 2026. Selain karhutla, polusi udara kronis akibat emisi di perkotaan dan industri turut menyebabkan kematian sebanyak 1.750 jiwa. Hal ini membuat total kematian akibat polusi udara secara nasional meningkat 42% menjadi 5.310 jiwa pada September 2026. 

Riset CREA berjudul "Indonesia's air pollution deaths surged by 42% in September as government resists declaring karhutla a national emergency" menyatakan empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur mencatat risiko kematian tertinggi akibat asap karhutla. Total kematian di keempat provinsi itu meningkat menjadi 1.470 jiwa. Sementara itu, lima provinsi di Sumatra yang mencakup Jambi, Sumatra Selatan, Riau, Lampung, dan Sumatra Barat mencatat kematian sebanyak 1.420 jiwa.  

Kondisi kering akibat puncak El Nino di September memperparah bencana kebakaran hutan dan lahan. Di Jawa, kematian cenderung disebabkan oleh polusi yang disebabkan oleh kegiatan industri, emisi kendaraan, dan pembakaran sampah dengan jumlah 1.530 jiwa per September 2026. 

“Angka-angka ini memperlihatkan bahwa sumber polusi udara selain karhutla sama berbahayanya dengan asap dari pembakaran hutan dan lahan gambut," kata Katherine Hasan, Analis CREA, dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10). 

Di Jawa, polusi udara non-karhutla tetap menjadi penyebab utama kematian, khususnya pada wilayah perkotaan padat penduduk. Namun, meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua telah menggeser penyebab utama kematian terkait polusi udara dari polusi urban ke asap karhutla yang beracun.

14 Juta Penduduk Kalimantan Terpapar Kualitas Udara Buruk

Riset CREA menyatakan situasi yang semakin parah membuat 14 juta jiwa atau hampir 80% penduduk di Kalimantan terpapar kualitas udara buruk pada September, meningkat dari posisi Agustus sebanyak 12,3 juta jiwa. Sementara itu, separuh penduduk di Sumatra atau sekitar 31,4 juta jiwa menghirup udara dengan kualitas tidak sehat atau lebih buruk, sedangkan di Jawa 23,8 juta orang mengalami hal yang sama. Total populasi di Indonesia yang menghirup udara tidak sehat hingga berbahaya mencapai 57,8 juta orang pada September.

Katherine mengatakan sebaran karhutla yang meluas mendorong peningkatan kadar rata-rata PM2,5 nasional ke angka 36 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka ini tujuh kali lebih tinggi dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk rata-rata konsentrasi PM2,5 tahunan sebesar 5 µg/m³.

Wilayah-wilayah yang terdampak karhutla seperti Kalimantan mengalami lonjakan PM2,5 yang lebih tinggi pada September menjadi 120 µg/m³ dan Sumatra 51 µg/m³.  

Di Jawa, rata-rata kadar PM2,5 relatif stabil pada  26 µg/m³, namun tetap ada risiko dampak dari karhutla seiring perubahan pola angin menjelang akhir tahun yang dapat membawa  asap dari Kalimantan ke Laut Jawa.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...