PLTS Atap Masuk ke Sistem PLN, Pembangkit Gas di Jamali akan Dikurangi
Pemerintah akan terus meningkatkan kapasitas terpasang PLTS atap di Indonesia. Ketika listrik yang dihasilkan masuk ke dalam sistem PLN, maka pembangkit listrik gas akan mulai dikurangi, terutama di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali).
Kementerian ESDM menyebut penggunaan PLTS atap secara masif akan berdampak pada berkurangnya penggunaan pembangkit listrik gas yang menjadi penopang wilayah Jamali selama ini. Selain dari gas, Jamali juga mengandalkan PLTU.
"Masuknya PLTS atap ke sistem PLN, maka ada porsi pembangkit yang harus dikurangi. Gas karena sifatnya follower, turun naik 3-6 GW, gampang dinaikkan dan turunkan. Kalau PLTS masuk 1 GW maka kami bisa turunkan PLTG atau CNG," ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana, Jumat (27/8).
Dengan fungsinya yang lebih sebagai follower atau peaker, bukan sebagai base load, secara teknis PLTG lebih memungkinkan untuk digantikan dengan PLTS atap.
Beban puncak Jamali saat ini mencapai 25 ribu megawatt (MW). Di dalamnya ada peran pembangkit gas, batu bara, hingga panas bumi. Dengan masuknya PLTS atap sebesar 1 GW maka akan menyesuaikan pembangkit yang sifatnya follower seperti gas.
Berdasarkan kajian Ditjen Ketenagalistrikan, masuknya PLTS berkapasitas 1 GW di Jamali, maka setidaknya akan mengurangi konsumsi gas sebesar 62,788 MMBTUD. Atau 7% dari total pemakaian gas per hari untuk pembangkitan listrik.
Simak target pengembangan PLTS atap di Indonesia hingga 2030 pada databoks berikut:
Selain itu, dibandingkan harga gas US$ 6 per MMBTU, penggunaan PLTS atap akan lebih ekonomis dari sisi biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. "Secara nominal BPP turun karena yang kami turunkan pembangkit mahal dibandingkan PLTS atap yang murah. Jadi ada penghematan di situ," ujarnya.
Seperti diketahui Kementerian ESDM memiliki target untuk menambah kapasitas terpasang pembangkit listrik energi baru terbarukan atau EBT sebesar 38 GW hingga 2035. Guna merealisasikan target tersebut, pengembangan PLTS akan menjadi andalan.
"Untuk mencapai target tersebut pemerintah memprioritaskan pengembangan pembangkit surya karena biayanya makin kompetitif dan lebih murah dan waktu pelaksanaannya lebih cepat, kita memiliki sumber yang banyak," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif, beberapa waktu lalu, Selasa (10/8).
Pemerintah memiliki tiga program prioritas yang sedang berjalan untuk mendorong pengembangan PLTS, yakni pengembangan PLTS atap dengan kapasitas total 3,6 GW, pengembangan PLTS skala besar berkapasitas 5,34 GW, dan yang terbesar, proyek PLTS terapung di 375 lokasi dengan total kapasitas 28,20 GW.
"Terus terang kita tertinggal dengan Vietnam. Karena Vietnam sudah memanfaatkan PLTS atap sampai 17 GW kita masih ratusan MW," ujarnya.
