Sedang Proses Paten, CEO Nikuba Sebut Tak Butuh Uji Ilmiah
Perusahaan rintisan PT Nikuba Hidrogen Nusantara menegaskan tidak pernah mengajukan uji ilmiah kepada lembaga manapun soal alat pengonversi air menjadi hidrogen sebagai pengganti BBM kendaraan bermotor.
Chief Executive Officer (CEO), Nikuba Hidrogen Nusantara, Narliswandi Piliang alias Iwan Piliang, mengatakan daripada mengajukan uji imliah, Nikuba lebih memilih untuk segera menyelesaikan daftar paten yang mereka ajukan.
"Kami tak butuh uji ilmiah dari pihak lain karena sudah selesai selama 5 tahun sebelumnya di internal kami. Kalau patennya nanti keluar, uji ilmiah apalagi yg mau dibedah? Tapi kalau pihak lain mau uji ilmiah, silakan saja," ujarnya kepada Katadata.co.id, dikutip Jumat (20/5).
Nikuba sedang menjalani proses daftar paten yang menyangkut hal teknologi. "Dibawa ke badan paten dunia, proses paling cepat itu setahun. Yang namaya temuan pasti akan ditiru orang. Tapi kita sudah sangat pede untuk masuk ke pasar," ujarnya.
Nikuba merupakan akronim dari kata bahasa Jawa, “niku banyu”, yang artinya “itu air”. Alat ini bekerja dengan cara memisahkan hidrogen (H2) dan oksigen (O2) yang terkandung di dalam air (H2O) melalui proses elektrolisis.
Iwan mengatakan, Universitas Pertahanan (Unhan) Bogor telah mendatangi Aryanto Misel sebagai penemu alat Nikuba di rumahnya yang terletak di Lemahabang Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon pada Kamis kemarin.
"Belum dilakukan uji ilmiah. Baru hari ini pihak Unhan ke kediaman Pak Aryanto. Saya sendiri belum dapat laporan Pak Aryanto," sambung Iwan.
Iwan menambahkan, alasan pihak Nikuba untuk tidak melakukan uji ilmiah terhadap penemuannya dikarenakan Nikuba telah dipasang di 10 unit motor Trail Aviar 200 CC milik TNI dari Kodam III Siliwangi. "Kami pede produk ini welldone sebagai penemuan," ujarnya.
Mantan wartawan Pantau ini mengatakan Nikuba mampu mengonversi 100% air menjadi hidrogen yang difungsikan sebagai pengganti BBM di kendaraan roda dua. "Nikuba itu adalah mini generator yang mengubah airnya menjadi hidrogen. Hidrogennya pengganti bensin, jadi otomatis bensinnya 100% itu adalah hidrogen," ucap Iwan.
Sebelumnya diberitakan, Dosen Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI), Widodo Wahyu Purwanto, menilai bahwa Nikuba bukan alat yang bisa menggantikan BBM yang biasa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
Alumnus Institut National Polytechnique de Toulouse Prancis ini pun mengatakan bahwa cara memisahkan antara hidrogen (H2) dan oksigen (O2) yang terkandung di dalam air (H2O) melalui proses elektrolisis memerlukan energi yang besar.
“Kalau gak salah Nikuba itu ada kemungkinan itu dia pakai HHO, jadi hidrogen dan oksigennya tidak terpisah atau disebut brown gas. Kalau dibilang gak pakai BBM 100%, saya kira itu tidak bisa ya,” kata Widodo kepada Katadata.co.id, dikutip Jumat (13/5).
Ia menegaskan bahwa air tidak bisa diubah menjadi BBM karena air tidak memiliki kandungan karbon layaknya BBM. Meski begitu, ia mengatakan bahwa Nikuba kemungkinan meningkatkan efisiensi pembakaran pada mesin sepeda motor.
Widodo menambahkan, teori cara kerja Nikuba sudah ada sejak beberapa tahun lalu dengan menggunakan alat yang disebut dengan elektolizer.
Widodo pun mengaku belum melihat langsung alat Nikuba yang dimaksud. Guna membuktikan kajian ilmiahnya, Widodo menyarankan Nikuba untuk diteliti lebih lanjut ke Lembaga berwenang seperi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Senada dengan Widodo, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Chairul Hudaya mengatakan bahwa proses mengubah air melalui proses elektrolisis hingga menjadi energi sulit dilakukan. "Untuk memecah hidrogen dari air perlu energi yang besar dan alat yang khusus," katanya.
Ia mengatakan, inovasi bahan bakar untuk kendaraan sebenarnya telah banyak dikembangkan sebelumnya. “Banyak yang free energy, tapi akhirnya terkuak sebagai fake. Kalau mau fair, ini bisa dibedah bersama,” ujarnya.