Pengembangan Biomassa Berpotensi Ancam Deforestasi dan Pangan

C. Bregas Pranoto
11 April 2023, 14:00
Dirjen EBTKE Dadan Kusdiana (kiri) dan Menteri ESDM Arifin Tasrif (kanan) pada uji jalan Biodiesel B40 di Subang, Jawa Barat, Selasa (1/11).
Kementerian ESDM
Dirjen EBTKE Dadan Kusdiana (kiri) dan Menteri ESDM Arifin Tasrif (kanan) pada uji jalan Biodiesel B40 di Subang, Jawa Barat, Selasa (1/11).

Pengembangan biomassa dan biodiesel dinilai akan menimbulkan permasalahn baru dalam pemenuhan pangan, terutama minyak goreng. 

Peneliti Traction Energy Asia, Ramada Febrian mengatakan pemerintah telah menetapkan kebijakan B35 dengan mencampur 35% bahan bakar nabati dari kelapa sawit dengan BBM. Selain itu pemerintah juga mendorong pengolahan tanaman hutan menjadi pelet kayu dalam skema co-firing PLTU batu bara. . 

Advertisement

“Karena ada permintaan yang banyak untuk pangan dan energi, akan meningkatkan harga,” katanya. 

Ramada mengatakan kenaikan harga minyak goreng akan membebani anggaran negara karena pemerintah harus memberikan subsidi. Sementara itu, Peneliti Trend Asia Amalya Reza menyebutkan pengembangan biomassa berisiko membuka lahan hutan. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 7 Tahun 2021 menyebutkan kawasan hutan dengan fungsi hutan produksi konversi (HPK) dicadangkan untuk energi.

“HPK masih ada 5 juta hektare (ha) hutan alam. Jadi kemungkinan mendorong deforestasi di HPK itu besar. Jadi ada potensi ancaman 5 juta hektare deforestasi dengan adanya proyek energi ini,“ kata Amalya. 

Amalya mencontohkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah membuat kesepakatan dengan Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani) dan PT Perkebunan Nasional (PTPN). Perhutani akan mengalokasikan 70.000 hektare lahan untuk menjadi tanaman energi, sementara PTPN akan memasok limbah-limbah sawit, tebu, dan karet yang akan diremajakan sebagai bahan baku.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2022 memperkirakan CPO untuk pangan mencapai 9,6 juta ton dan untuk biodiesel sebanyak 8,8 juta ton. Sementara itu, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Demokrafi Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan pengembangan biodiesel skenario B50 membutuhkan lahan seluas 9,29 juta ha atau setara 140 kali luas DKI Jakarta. 

Kajian Trend Asia pada tahun 2022 memperkirakan kebutuhan lahan HTE untuk pemenuhan target co-firing 10% di 107 unit PLTU paling sedikit butuh 2,33 juta ha, atau setara 35 kali luas DKI Jakarta. 

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement