Emisi Karbon Global Sentuh Rekor Baru Meski EBT Meningkat Pesat

Happy Fajrian
8 Agustus 2023, 13:31
emisi karbon, sektor energi
Leonid Sorokin/123RF
Ilustrasi emisi karbon.

Emisi karbon global terus meningkat meski kapasitas energi baru terbarukan atau EBT terus meningkat. Data dari BP Statistical of World Energy menunjukkan emisi karbon dari sektor energi pada 2022 meningkat 0,9% menjadi 34,4 miliar metrik ton.

Data menunjukkan bahwa emisi dari negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) menurun, namun emisi dari negara non-OECD, khususnya di kawasan Asia-Pasifik, meningkat signifikan didorong pertumbuhan ekonomi yang meningkatkan konsumsi energi.

Hal ini menunjukkan bahwa dunia masih sangat bergantung pada sumber energi fosil untuk memenuhi kebutuhan energinya, meskipun kapasitas energi terbarukan seperti angin dan surya terus menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Meski energi terbarukan meningkat pesat, bahan bakar fosil masih mempertahankan kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan energi dunia hingga 82%. Permintaan gas alam dan batu bara relatif stagnan, atau tidak mengalami peningkatan, namun permintaan minyak pulih ke level sebelum pandemi.

Dengan bahan bakar fosil yang masih mendominasi bauran energi dunia, emisi karbon pada 2022 mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 34,4 miliar metrik ton, naik 0,9% dibandingkan emisi pada tahun sebelumnya.

“Meski dengan pertumbuhan tenaga surya dan angin yang kuat di sektor energi, emisi karbon dan rumah kaca yang terkait dengan sektor ini meningkat lagi. Kita masih mengarah pada jalur yang berlawanan dengan tujuan Paris Agreement,” kata Presiden Energy Institute Juliet Davenport, seperti dikutip dari Oilprice, Selasa (8/8).

Negara Berkembang Kontributor Utama

Laporan ini menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara emisi negara maju dan negara berkembang. 38 negara OECD mencatatkan penurunan emisi karbon selama 15 tahun terakhir. Saat ini level emisi negara-negara ini setara dengan level emisi mereka 35 tahun lalu.

Sementara emisi negara berkembang terus meningkat imbas peningkatan penggunaan bahan bakar fosil sejalan dengan pertumbuhan ekonominya. Wilayah Asia Pasifik, khususnya, telah mengalami pertumbuhan emisi karbon yang eksplosif selama lebih dari 50 tahun terakhir.

Emisi karbon negara-negara berkembang non-OECD mengalami pertumbuhan eksplosif dalam emisi karbon karena dua alasan utama. Pertama, mereka sedang melalui fase pembangunan yang bergantung pada batu bara yang mirip dengan sejarah negara-negara OECD, sebelum munculnya kesadaran iklim.

Kedua, miliaran orang di negara berkembang yang padat penduduk meningkatkan standar hidup dan konsumsi energi mereka. Meskipun saat ini penggunaan bahan bakar fosil per kapita di kawasan ini tertinggal dari negara maju, dampak emisi agregat dari miliaran orang perlahan-lahan meningkatkan konsumsi energi menjadi kontributor terbesar peningkatan emisi karbon global.

Cina, misalnya, sekarang menghasilkan emisi karbon dioksida dua kali lipat lebih banyak daripada Amerika Serikat (AS). Namun emisi per kapita Cina saat ini separuh dari AS. Ini menjadi tantangan besar untuk menurunkan emisi ketika 60% populasi dunia tinggal di negara-negara Asia-Pasifik yang berkembang pesat.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...