Pelemahan Rupiah Bisa Berdampak pada Capaian Target Bauran EBT

Rena Laila Wuri
22 April 2024, 14:25
Petugas melakukan perawatan panel surya di PLTS Terapung Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (16/3/2024). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman Hutajulu mengatakan total keseluruhan potens
ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Petugas melakukan perawatan panel surya di PLTS Terapung Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (16/3/2024). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman Hutajulu mengatakan total keseluruhan potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3,6 terawatt (TW) yang didominasi oleh PLTS dengan potensi sebesar 3,3 TW.
Button AI Summarize

Pelemahan Rupiah bisa berdampak pada capaian target bauran energi baru terbarukan (EBT). Pasalnya, komponen EBT masih banyak yang menggunakan barang impor.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Kurs rupiah per dolar AS berkisar Rp 16.220 pada pekan keempat April 2024 ini.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan dampak pelemahan kurs rupiah bisa mempengaruhi target bauran EBT. Pasalnya saat ini, kapasitas produksi komponen lokal EBT masih rendah.

Dengan demikian, ketergantungan terhadap komponen impor sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs.  4

“Ini sebagian berlaku bagi EBT dengan biaya komponen yang cukup mahal seperti geothermal, hidrogen dan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),” kata Bhima saat dihubungi Katadata.co.id, Senin (22/4).

Namun demikian, Bhima mengatakan, harga jual komponen EBT sudah jauh lebih murah dari sebelumnya. Misalnya saja  harga solar panel dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)  yang turun signifikan karena makin banyaknya pemain yang memproduksi komponen tersebut.

Dia mengatakan, skala ekonomi dari komponen solar panel lebih terjangkau meski sebagian impor sehingga relatif makin kuat terhadap pelemahan rupiah. Perbandingan komponen biaya di tengah lemahnya rupiah juga bisa dilakukan antara ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil seperti pembangkit diesel dengan EBT.

“Kurs melemah, harga minyak naik, maka pilihan bergantung pada pembangkit fossil justru makin memberatkan ongkos operasional dibanding EBT,” ucapnya.

Halaman:
Reporter: Rena Laila Wuri

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...