RI Berpotensi Kembangkan 3 Produk Manufaktur EBT, Bisa Serap 9,7 Juta Pekerja

Ringkasan
- Perubahan iklim telah mencapai tahap kritis dan berdampak pada cuaca, salah satunya mempercepat siklus banjir di Indonesia.
- Periode 2015-2024 tercatat sebagai periode terpanas, dengan anomali suhu pada 2024 melampaui kesepakatan Paris.
- Peningkatan curah hujan ekstrem berkorelasi dengan kenaikan suhu dan konsentrasi Gas Rumah Kaca, menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Indonesia berpotensi mengembangkan tiga sektor manufaktur energi baru terbarukan dengan potensi ekonomi mencapai US$ 551 miliar atau setara dengan Rp 9.146 triliun.
Direktur Eksekutif Institute for Esssential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan tiga sektor tersebut adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan battery energy storage system atau sistem penyimpanan energi baterai.
“Pembangkit energi surya bisa memberikan nilai ekonomi sampai dengan US$ 236 miliar,” ujar Fabby dalam Diseminasi dan Peluncuran Kajian IESR yang dipantau virtual, Selasa (25/3).
Fabby mengatakan pengembangan turbin angin untuk PLTB memberikan nilai ekonomi sampai denganUS$ 75 miliar. Sementara pengembangan ekonomi sistem baterai dapat memberikan nilai ekonomi sampai dengan US$ 240 miliar.
Selain berpotensi memberikan nilai ekonomi yang besar, pengembangan industri manufaktur EBT juga dapat membuka hingga 9,7 juta lapangan pekerjaan. Lapangan kerja terbesar ada pada industri manufaktur di sektor PLTS dengan sumbangan sebesar 5,7 juta orang, lalu battery energy storage system atau sistem penyimpanan energi baterai sebanyak 2,2 juta orang, dan pengembangan turbin angin sebesar 1,8 juta lapangan kerja.
Dia mengatakan, industri EBT dapat menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang jika potensi tersebut dapat dimaksimalkan. Jika industri manufaktur EBT berkembang, Indonesia tidak harus menggantungkan pertumbuhan ekonomi dari penjualan komoditas bahan mentah.