China Western Power Bakal Investasi Energi Hijau Rp 24,07 T di Laos

Ringkasan
- China Western Power Industrial bekerja sama dengan Laos untuk proyek energi bersih senilai US$ 1,45 miliar. Proyek ini meliputi desain, penyediaan, dan pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 1.800 MW di Laos selatan.
- Kesepakatan tersebut mendorong kenaikan harga saham China Western Power sebesar 9,9% dan diperkirakan selesai pada awal tahun 2030.
- China Western Power juga menandatangani kesepakatan transmisi listrik senilai US$ 228,8 juta dengan perusahaan Laos yang sama. Laos, yang dijuluki "baterai Asia Tenggara", berfokus pada ekspor listrik dan mengembangkan energi surya dan angin.

China Western Power Industrial, produsen peralatan pembangkit listrik asal Tiongkok, telah menandatangani kesepakatan energi bersih senilai US$ 1,45 miliar (Rp 24,07 triliun) dengan pemerintah Laos. Kerja sama ini sejalan dengan rencana Laos mendorong pembangkitan dan transmisi energi bersih.
China Western Power Industrial dan perusahaan konstruksi yang berbasis di Singapura, menandatangani perjanjian dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Xekong di Laos untuk mendesain, memasok, dan membangun proyek pembangkit listrik energi bersih berkapasitas 1.800 megawatt (MW) di Laos selatan. Hal itu terungkap dalam keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan ke Bursa Shenzhen, pada Senin (25/3).
Melansir laporan Reuters, harga saham China Western Power melonjak 9,9% setelah pengajuan tersebut. Sepanjang tahun ini, harga saham perusahaan manufaktur itu telah melonjak 46,3%.
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Xekong diperkirakan akan selesai pada awal tahun 2030. Desain awal proyek akan diselesaikan pada akhir tahun ini. Pengajuan tersebut tidak memberikan rincian tentang sumber energi proyek tersebut.
Pada Senin (24/3), perusahaan Tiongkok tersebut juga menandatangani kesepakatan transmisi listrik, senilai US$ 228,8 juta (Rp 3,78 triliun), dengan perusahaan Laos yang sama.
Pada tahun 2022, China Western Power menandatangani kesepakatan pasokan dan layanan senilai US$ 409 juta (Rp 6,79 triliun) dengan perusahaan listrik lain di Laos.
Tahun 2024, sebuah perusahaan listrik milik negara Tiongkok menandatangani perjanjian dengan Laos untuk memperluas basis energi angin dan surya di utara negara tersebut. Laos, sebuah negara pegunungan, telah menghasilkan sekitar 80% listriknya dari tenaga air selama dekade terakhir. Namun, Laos kesulitan untuk meningkatkan tenaga surya dan anginnya.
Ekspor listrik, yang juga menuju negara tetangga Thailand dan Vietnam, telah menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Laos yang terkurung daratan. Akhir-akhir ini, Laos mendapat julukan sebagai baterai Asia Tenggara karena perannya tersebut.