Transisi Energi, Pertamina Perkaya Portofolio Energi Hijau

Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Luky Maulana
10 September 2025, 17:02
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Murza, dalam Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9). Dok/Katadata.
Katadata
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Murza, dalam Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9). Dok/Katadata.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina (Persero) menyampaikan komitmennya untuk fokus dalam mengembangkan portofolio bisnis energi hijau. BUMN migas itu optimistis dapat mendukung visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tentang swasembada energi dan ekonomi hijau.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Murza, dalam Katadata Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9), menyatakan perusahaan saat ini menempuh dual growth strategy.

Di satu sisi, Pertamina tetap menjalankan bisnis yang sudah ada, seperti pengadaan dan produksi migas, serta penyediaan BBM dan LPG. Di sisi lain, perseroan turut mengembangkan low carbon business.

“Kami berusaha untuk mengejar sustainability focus, mulai dari mengurangi emisi, kemudian memproteksi lingkungan, dan mengembangkan teknologi yang dibutuhkan menuju green economy,” katanya dalam sesi monolog bertajuk ‘Leading with Impact: Pertamina’s ESG Strategy for a Resilient Energy Ecosystem’.

Menurutnya, sebagai bukti dari komitmen tersebut, perusahaan telah mengembangkan berbagai produk migas ramah lingkungan, seperti Pertamina Green dengan RON 95. Bahan bakar tersebut merupakan hasil campuran dari Pertamax dengan Bioetanol berbasis sorgum.

Saat ini, perusahaan sudah menyediakan Pertamina Green di sekitar 159 SPBU yang tersebar di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu, Pertamina mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk mendukung transisi energi di industri penerbangan. Produksi SAF—yang telah tersertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) secara end-to-end—dikatakan dapat menurunkan emisi bahan bakar sebesar 84 persen.

Untuk memproduksi SAF, kata Oki, perusahaan memanfaatkan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO). Dia menambahkan bahwa potensi sumber UCO yang besar menjadi potensi pengembangan SAF ke depannya.

“Ada 280 juta penduduk Indonesia, dan kita butuh minyak goreng itu sekitar 80 juta ton, dan kalau misalnya kita lihat negara maju, mereka bisa berhasil mengumpulkan 20% dari minyak gorengnya. Jadi theoretically 1,6 juta ton minyak goreng bekas. kita olah menjadi sustainable life-vision fuel di kilang kita,” ujarnya.

Saat ini, sudah ada tiga kilang yang bisa memproduksi SAF, yakni di Dumai, Cilacap, dan Balongan. Dengan kapasitas produksi itu, Pertamina berharap dapat menjadi hub produsen SAF di dunia.

Belum cukup, Pertamina mengembangkan pula Pertamina Renewable Diesel. Itu merupakan bahan bakar Biodiesel B40 dari minyak nabati kelapa sawit.  

Selain migas, Pertamina turut mengincar produksi listrik berbasis energi baru terbarukan seperti panas bumi atau geothermal.

“Potensinya ada 24 sampai 26 gigawatt, tetapi saat ini ini utilisasinya baru kurang dari 10 persen. Dan Pertamina sudah operation untuk geothermal dengan kapasitas sekitar. Mudah-mudahan di 2030 kita bisa melipatgandakan kapasitas kita, dan Indonesia akan menjadi negara terbesar untuk panas bumi ini,” ujarnya.

Terakhir, Pertamina saat ini sedang menjalankan pilot project untuk Green Hydrogen di Ulubelu Lambung. Ada pun groundbreaking proyek tersebut baru saja diresmikan pada awal September. Dalam proyek ini, Pertamina membidik kerja sama dengan Toyota Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Oki menyampaikan Pertamina pada saat bersamaan berupaya mengurangi emisi karbon pada bisnis yang sudah ada. Dengan produksi sebesar 500-600 ribu barel minyak per hari (BOPD), perusahaan menghasilkan emisi karbon yang juga besar.

Karena itu, perusahaan mengandalkan teknologi penangkapan emisi karbon dioksida yakni Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).

Sejauh ini, Pertamina sudah mengidentifikasi beberapa wilayah potensial yang dapat menyimpan CO2. Misalnya di wilayah Asri Basin Laut Jawa dengan potensi 1,1 giga ton CO2.

Wilayah lain yang berpotensi menyimpan CO2 adalah Sumatera Selatan (43 juta ton), Kalimantan Timur (123 juta ton), dan Sulawesi Tengah (1,9 giga ton).

“Jadi CCS dan CCUS ini juga bisa mengurangi emisi dari current operation di Pertamina dan juga non-Pertamina,” katanya.

SAFE merupakan forum strategis tahunan yang diselenggarakan sejak 2020 sebagai flagship event Katadata Indonesia dalam mendorong transisi menuju ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Di tahun ke-6 penyelenggaraannya, Katadata SAFE 2025 digelar pada 10–11 September 2025 dengan mengusung tema “Green for Resilience” sebagai respons terhadap tantangan krisis iklim dan dinamika global, sekaligus menegaskan pentingnya ekonomi hijau sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Luky Maulana
Editor: Arif Hulwan

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...