Biaya Transisi Energi Rp 4.000 Triliun, Kemenkeu Butuh Bantuan Swasta

Ajeng Dwita Ayuningtyas
7 Oktober 2025, 15:56
transisi energi, pembiayaan berkelanjutan, energi bersih
Katadata/Fauza Syahputra
Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan, Boby Wahyu Hernawan, menyebut proyek transisi energi di Indonesia memerlukan pembiayaan Rp 4.000 triliun.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan, Boby Wahyu Hernawan, menyebut proyek transisi energi di Indonesia memerlukan pembiayaan Rp 4.000 triliun. Padahal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mampu menopang 13% saja dari pendanaan tersebut. 

“Kalau kita lihat kemampuan APBN dari hasil budget tagging yang kita lakukan dari tahun 2016-2018, kurang lebih APBN hanya mampu untuk mitigasi dan adaptasi sekitar 13%,” kata Boby, dalam diskusi panel di Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Jakarta, Selasa (7/10).

Situasi ini mengharuskan keterlibatan sektor swasta untuk membiayai proyek. Boby mengatakan, pihaknya menerapkan tiga hal untuk membawa investor ke proyek transisi energi.

“Kita harus memastikan insentif fiskal itu progresif, melakukan inovasi instrumen keuangan, dan penguatan ekosistem pendanaan hijau,” jelasnya.

Dalam konteks insentif fiskal, Boby menuturkan fasilitas perpajakan yang paling banyak ditanyakan oleh investor. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah memberikan fasilitas tersebut terutama untuk sektor energi bersih dan energi pendukungnya.

Di antaranya tax holiday untuk industri pionir kendaraan listrik dan baterai. Kemudian super tax deduction hingga 300% untuk kegiatan riset dan pengembangan di bidang energi terbarukan.

Pada 2023, insentif ini telah mencapai Rp 27,9 triliun. Boby menilai angkanya akan terus meningkat.

Terkait inovasi instrumen pembiayaan berkelanjutan, pemerintah telah mengeluarkan Green Sukuk. Ini merupakan instrumen pembiayaan yang diterbitkan untuk fokus pada proyek hijau dan berkelanjutan.

Kontribusi Perbankan Nasional untuk Proyek Hijau

Boby menambahkan, pembiayaan berkelanjutan dari perbankan nasional saat ini telah mencapai US$129 miliar atau sekitar Rp2.135 triliun (kurs Rp16.560/US$). Setara 27% dari total kredit perbankan nasional. 

Meskipun begitu, kecukupan modal dari perbankan nasional berada di atas 27% dan masih tergolong cukup tinggi. “Artinya, ruang ekspansi yang sehat untuk industri hijau dari perbankan nasional juga masih kuat,” tambah Boby. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...