Indonesia Harus Manfaatkan Investasi Cina untuk Energi Terbarukan
Indonesia didorong untuk memanfaatkan peluang investasi dari Cina melalui program Belt and Road Initiative (BRI) untuk mendorong adopsi energi terbarukan.
Direktur Eksekutif Yayasan Sustain Tata Mutasya mengatakan pada 2024, Indonesia menjadi penerima investasi BRI terbesar dengan nilai US$9,3 miliar atau setara Rp148,8 triliun (kurs Rp16.000/US$). Dari jumlah tersebut, sekitar US$900 juta diarahkan untuk sektor energi termasuk energi terbarukan.
Tata menyebut pemerintah perlu mengalihkan investasi Cina tersebut ke sektor energi terbarukan. Simulasi Sustain menunjukkan jika seluruh investasi BRI di sektor energi dialokasikan untuk energi terbarukan, selama 10 tahun Indonesia bisa memperoleh Rp144 triliun. “Jika kita benar-benar mengoptimalkannya, kita dapat memiliki pembangkit listrik tenaga surya terapung Cirata setara dengan 80 unit,” katanya, dalam peluncuran laporan SUSTAIN dan CERAH: “Leveraging China’s Green Momentum to Advance Indonesia’s Economic Development”, Rabu (5/11).
Menurut simulasi sederhana Sustain, kondisi ini akan memunculkan 112.000 lapangan kerja, sekaligus memangkas 17 juta ton emisi CO2. Selain itu, listrik yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan 4 juta rumah tangga.
Di samping itu, SUSTAIN juga menempatkan Jawa Barat dalam simulasi perhitungan bagaimana jika investasi Cina fokus ke provinsi tertentu.
“Karena Jawa Barat adalah provinsi dengan populasi terbesar dan memiliki pelanggan PLN terbesar, mencapai 17 juta pelanggan, itu hampir 19% total pelanggan listrik di Indonesia,” jelas Tata.
Permintaan listrik Jawa Barat juga diperkirakan tumbuh 43% dalam 10 tahun ke depan.
Mengacu studi kasus Jawa Barat, 30% pendanaan BRI saat ini atau sekitar Rp42,7 triliun, mampu membiayai pembangunan PLTS 3,6 GW dalam RUPTL 2025-2034 di wilayah tersebut. Pembangunan ini kemudian memunculkan 33 ribu lapangan kerja serta mengurangi 5,14 juta ton emisi karbon per tahun.
Peluang lainnya berasal dari industri manufaktur kendaraan listrik, sebab infrastruktur dan industrinya sudah terbangun di Jawa Barat. Menurut Tata, saat ini pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang pesat, didorong pemberian insentif bagi produsen dan konsumen. Lokalisasi industri manufaktur kendaraan listrik dari Cina juga tengah berlangsung di Subang, Jawa Barat, yang pembangunan pabriknya masih berjalan hingga kini.
“Di Jawa Barat misalnya, kita bisa memiliki empat pabrik manufaktur seukuran pabrik BYD. Ini mampu menciptakan 70 ribu lapangan kerja formal yang pendapatannya jauh lebih tinggi dari lapangan kerja informal di provinsi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Senior Assistant Professor Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Yeremia Lalisang, tak menampik bahwa investasi akan menciptakan lapangan kerja. Namun, menurutnya perlu berhati-hati agar tak melebih-lebihkan potensi lapangan pekerjaan.
“Setelah pembangkit listrik tenaga surya beroperasi, tenaga kerjanya jauh lebih sedikit. Operasional dan pemeliharaan mungkin membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja. Teknologi surya dirancang untuk beroperasi dengan staf minimal,” paparnya dalam kesempatan yang sama.
Yeremia menilai,potensi lapangan kerja dari proyek PLTS ini lebih rendah dari yang dipaparkan dalam laporan tersebut. Penciptaan lapangan kerja sektor energi terbarukan masih belum sebanding dengan potensi di industri manufaktur atau pertanian, meskipun memiliki sifat industri yang berbeda.
Yere juga menyoroti kata “lokalisasi” yang digunakan. Laporan tersebut banyak membahas pembangunan kapasitas lokal, mempekerjakan penduduk lokal, hingga memperkuat rantai pasokan. Akan tetapi, skalanya perlu diperjelas.
Industri manufaktur berteknologi tinggi membutuhkan kemampuan khusus. Sementara, sebagian besar daerah pedesaan tidak memiliki sumber daya manusia dengan keterampilan manufaktur tingkat lanjut. Hal ini memunculkan kecenderungan perusahaan untuk merekrut pekerja dari lokasi lain dengan keterampilan sesuai kebutuhan. Meskipun pada akhirnya tetap berkontribusi pada ekonomi lokal.
“Mereka membayar sewa, membeli bahan makanan, menggunakan layanan lokal, dan semua itu menciptakan aktivitas ekonomi,” jelasnya.
