IESR Sarankan Bauran Energi Hijau Kombinasikan Panas Bumi, Surya, dan Angin
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan Indonesia tidak memerlukan pembangkit listrik yang beroperasi penuh 24 jam, melainkan sistem kelistrikan yang andal, murah, bersih, dan tersedia saat dibutuhkan.
Menurutnya, dekarbonisasi sistem energi nasional harus bertumpu pada kombinasi berbagai sumber energi terbarukan.
Fabby menyoroti peran besar energi panas bumi yang disebutnya sebagai "the sleeping giant"karena potensi besarnya namun belum optimal dimanfaatkan.
“Panas bumi bisa memberikan daya konstan dengan faktor kapasitas tinggi di atas 80%, bahkan lebih baik dari kebanyakan PLTU batu bara jika dikelola baik,” kata Fabby dalam acara Brown to Green Conference, di Jakarta, Selasa (2/12).
Indonesia memiliki sekitar 40% cadangan panas bumi dunia, setara dengan 24 gigawatt (GW) energi bersih. Namun, baru 10% yang termanfaatkan.
Sementara itu, data Geomap Inner Space menunjukkan potensi teknisnya dapat mencapai 2.160 GW, atau 21 kali lipat kapasitas terpasang saat ini. Bahkan, panas bumi dinilai mampu memenuhi 90% kebutuhan panas industri dunia pada 2050.
Strategi Realisasi Bauran Energi
Untuk mewujudkan bauran energi terbarukan yang kuat, Fabby menyebut tiga strategi utama untuk merealisasikan bauran energi.
Pertama, mitigasi risiko panas bumi. Menurutnya, hambatan terbesar pengembangan panas bumi bukan teknologi, tetapi risiko finansial eksplorasi. Ia meminta pemerintah menyediakan mekanisme risk sharing, termasuk menanggung biaya sumur gagal.
“Setiap US$ 1 investasi mitigasi risiko bisa membuka US$ 5 hingga US$ 10 investasi swasta,” ujarnya.
IESR juga mendorong agar UU Panas Bumi No. 1/2014 direvisi untuk mengakomodasi teknologi baru, seperti closed-loop dan enhanced geothermal system, serta pemanfaatan langsung (direct use).
Kedua, modernisasi grid dan penyimpanan energi. Energi surya dan angin kini bisa diprediksi dengan akurasi 95%, sehingga memerlukan dukungan sistem kelistrikan yang modern dan responsif kondisi cuaca.
Fabby menegaskan pentingnya pembangunan baterai penyimpanan strategis dalam jaringan agar listrik surya juga dapat memenuhi beban malam hari.
Ketiga, reformasi kebijakan energi. Menurutnya subsidi besar untuk batu bara dan gas dianggap menghambat transisi energi. Ia mencontohkan harga batu bara untuk PLN yang dipatok US$ 70 per ton, serta gas US$ 6 per mmBtu.
Menurutnya, subsidi fosil harus dialihkan ke energi terbarukan, disertai pengadaan melalui lelang kompetitif dan transparan sebagaimana dilakukan India untuk menekan harga listrik surya.
Langkah lain yang dinilai penting adalah pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara ketika pembangkit terbarukan pengganti sudah tersedia.
“Secara ekonomi ini jauh lebih murah dan menghindari risiko aset terganggu,” kata Fabby.
Dengan potensi energi terbarukan yang besar, Febby meyakini Indonesia dapat membangun sistem energi yang mengandalkan 70–80% energi terbarukan, seperti yang dibuktikan oleh sejumlah studi di California, AS dan Australia Selatan.
“Kunci masa depan dekarbonisasi energi Indonesia adalah kombinasi panas bumi sebagai basis, ditambah surya dan angin yang ditopang teknologi baterai,” ucapnya.
