IBC Optimistis Nikel Bahan Baku Baterai Masa Depan, Apa Alasannya?
Direktur Utama PT Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif tetap optimistis nikel mampu bersaing di pasar sebagai bahan baku baterai di tengah berkembangnya baterai jenis Lithium Ferro-Phosphate (LFP).
“Secara volume, sebetulnya katoda jenis NMC (nickel mangnese cobalt) itu permintaannya meningkat, karena size market-nya meningkat tajam,” kata Aditya, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, pada Senin (2/2).
Menurut dia, baterai sodium-ion yang mengganti lithium dengan natrium untuk menekan biaya pun masih menjadikan nikel sebagai salah satu kandidat material katoda. Begitu juga dalam pengembangan solid-state battery, NMC adalah kandidat utama material katoda.
Maka itu, Aditya meyakini, nikel Indonesia masih bisa dipasarkan di level global.
Rancangan rantai pasok baterai IBC masih mengandalkan bijih nikel dan mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk produksi baterai. “Bijih nikel dan MHP adalah wilayah bisnis ANTAM, sedangkan wilayah kerja IBC adalah pengolahan MHP menjadi nickel sulfate, kemudian menjadi baterai, termasuk proses recycling,” ujarnya.
Sekadar informasi, pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat yang merupakan hasil kerja sama IBC dengan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai Tiongkok CATL akan beroperasi tahun ini. Pabrik baterai ini merupakan bagian hilir dari kerja sama IBC dan CATL yang dikenal sebagai Proyek Dragon.
