Gaya Hidup Hijau Makin Populer, PLTS Atap Jadi Pilihan Energi Rumah Tangga

Ajeng Dwita Ayuningtyas
18 Februari 2026, 14:55
Ilustrasi PLTS Atap, energi bersih
123rf.com/Martin Bergsma
Ilustrasi PLTS Atap
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bermula dari ketertarikannya pada kendaraan listrik, Ilham Bachtiar seorang warga asal Bandung makin tertarik untuk beralih sepenuhnya ke energi terbarukan. Bertahap, mulai dari suplai kendaraan listrik, lampu luar, CCTV, dan WiFi, kini kebutuhan energi listrik seantero rumahnya memanfaatkan energi surya

Ilham mulai mengadopsi sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap off-grid (luar jaringan PLN) di rumahnya pada awal 2024. Ia memilih tak menggunakan jasa vendor dan merakit pemasangan PLTS atap secara mandiri. 

Prosesnya dimulai dari perakitan baterai, pemasangan solar charge controller, inverter, hingga pemasangan panel surya beserta alat-alat monitoring PLTS. 

Kini, total sudah terpasang panel surya 5.640 Watt-peak, dengan baterai 48 Volt 750 ampere-hour atau setara 36 kilowatt/hour dan inverter 6 kilowatt + 10 kilowatt. 

Dengan kapasitas tersebut, PLTS atap di rumahnya bisa menggantikan peran listrik dari PLN. Sebut saja peralatan dengan kebutuhan energi besar seperti mesin cuci, AC, water heater, air fryer, microwave, atau penggunaan alat elektronik sehari-hari seperti TV, kulkas, penanak nasi, hingga tiga unit motor listrik, semuanya disuplai PLTS.

“Sebelumnya, tagihan listrik (PLN) saya mencapai Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta per bulan, sekarang dalam setahun saya hanya keluar biaya sekitar Rp 250 ribu saja,” kata Ilham kepada Katadata. 

Listrik dari PLN hanya digunakan sesekali, saat energi dari PLTS yang tersimpan di baterai sedang melemah. 

Meski begitu menurut dia, pemasangan PLTS atap bukan semata-mata untuk menghemat biaya. Pasalnya, biaya awal pemasangan PLTS Atap tergolong cukup besar. Peralihan ini lebih cocok dipandang sebagai gaya hidup cerdas atau smart lifestyle.

“Hingga saat ini modal yang dikeluarkan kisaran lebih dari Rp 80 juta,” ucap Ilham.

Yang perlu dicatat, sistem yang terpasang dirakit oleh Ilham secara mandiri. Jika menggunakan jasa vendor, Ilham memperkirakan biayanya akan jauh lebih mahal. 

Jika dihitung-hitung berdasarkan nilai ekonomis murni saat ini, biaya listrik dengan mengandalkan PLN masih lebih murah. Ia bahkan memperkirakan, baru bakal balik modal delapan tahun ke depan.

Tapi Ilham menegaskan, PLTS tetap menjadi pilihan, bila tujuannya ke arah transisi energi. 

REALISASI PEMBANGUNAN PLTS ATAP
REALISASI PEMBANGUNAN PLTS ATAP (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.)

Tetap Menyala Saat Kanan-Kiri Padam

Dalam sebuah unggahan di Instagram pribadinya @bapakcanggih, Ilham memperlihatkan rumahnya tetap menyala di malam hari, saat rumah-rumah lain di kompleknya gelap karena pemadaman listrik PLN.

“Enaknya pakai PLTS off-grid, waktu siang produksi listrik, malamnya kita menikmati listrik gratis,” kata Ilham dalam unggahan tersebut. 

Dia menambahkan, implementasi PLTS juga memberikan dampak baik berupa ‘kendali’. Pasalnya, ia tidak lagi bergantung pada suplai listrik PLN. 

Di unggahan lainnya ia bercerita, PLTS atap masih bisa menghasilkan listrik ketika turun hujan, meskipun energinya tidak maksimal. Dengan bantuan baterai sebagai penyimpan energi, pasokan listrik masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumahnya. 

Sejauh ini, Ilham menyatakan tak menemukan kendala berarti. Apalagi, perawatan PLTS atap tidak sulit. “Cukup bersihkan panel surya dari debu setiap tiga bulan sekali, serta rutin membersihkan debu di area inverter dan baterai.”

Mengisi Celah Saat On-Grid Dibatasi

Pemasangan PLTS atap off-grid menjadi salah satu jalan keluar di tengah penerapan kuota PLTS atap yang tersambung ke jaringan PLN (on-grid). Managing Director Xurya Daya Indonesia Eka Himawan mengatakan sistem ini juga mulai ramai dipilih para pengembang.

“Tugas kita sebagai pelaku industri adalah mencari opsi-opsi baru, salah satunya kita mulai ke off-grid,” kata dia, beberapa waktu lalu. 

Diketahui, Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 telah mengatur mengenai permohonan dan pembangunan PLTS atap on-grid dua kali dalam setahun. Tepatnya pada Januari dan Juli. 

Untuk Januari 2026, kuota PLTS atap on-grid ditetapkan sebesar 485 Megawatt (MW). Besaran tersebut kemudian terbagi menjadi dua alokasi. Kuota 304 MW untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang telah masuk dalam daftar tunggu, sisanya dibuka untuk pelanggan baru yang belum terdaftar. 

Bila pelanggan tak mendapat bagian di periode tersebut, maka harus ikut pendaftaran di periode berikutnya pada Juli mendatang. 

Potensi Besar PLTS Atap di Indonesia

Mengutip Antara, Kementerian ESDM mencatat adanya potensi PLTS hingga 3,3 Terawatt di Indonesia. Akan tetapi, baru sekitar 1 Gigawatt yang dimanfaatkan, baik melalui PLTS atap, PLTS terapung, maupun PLTS yang terpasang di tanah atau groundmounted. 

Padahal, PLTS atap terus didorong karena dianggap lebih praktis dibandingkan solusi energi terbarukan lainnya. Pembangkit listrik tenaga hidro atau panas bumi misalnya, perlu masa konstruksi yang panjang dan kebutuhan lahan yang besar. Sementara, PLTS bisa ‘nangkring’ di atap-atap rumah masyarakat. 

Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Andriah Feby Misna juga menyampaikan, saat ini harga panel surya semakin kompetitif. Ini menjadi ruang yang memudahkan berbagai pihak mengadopsi PLTS atap.

Sebagai informasi, PLTS atap termasuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN. Dalam rentang 2025-2030, kuota pengembangan PLTS atap ditargetkan mencapai 3,9 GW. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...