Dari Aceh hingga Kaltim, Sepuluh Daerah Dinilai Cocok Jadi Hub Hidrogen Hijau

Ajeng Dwita Ayuningtyas
11 Maret 2026, 13:00
Foto udara Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (18/2/2026). IESR memetakan 10 daerah yang cocok untuk menjadi lokasi hub hidrogen hijau, antara lain Kalimantan Timur.
ANTARA FOTO/M Risyal Hiday
Foto udara Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (18/2/2026). IESR memetakan 10 daerah yang cocok untuk menjadi lokasi hub hidrogen hijau, antara lain Kalimantan Timur.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Institute for Essential Services Reform (IESR) melihat potensi besar Indonesia menjadi produsen dari bahan bakar rendah emisi masa depan yaitu hidrogen hijau atau amonia hijau. Lembaga tink tank di bidang kebijakan energi ini mendorong pembentukan hub atau pusat industri untuk menekan biaya produksi.

Head of Industrial Decarbonization IESR Rheza Hanif Risqianto menjelaskan, tanpa pembentukan hub, biaya produksi hidrogen hijau tinggi sehingga sulit dijual dengan harga kompetitif yaitu sekitar US$ 4/kg. "Dengan membangun hydrogen hub ini kita bisa menurunkan potential cost dari hidrogen hijau itu sekitar US$0,5-1,5 per kilogram,” kata dia dalam forum Green Energy Transition Indonesia Day, di Jakarta, Selasa (10/3).

Rheza menjelaskan bahwa hub harus berada dekat dengan pusat permintaan, pembangkit energi terbarukan atau infrastruktur jaringan terkait, akses jalan, serta sumber daya air. IESR telah memetakan 10 lokasi yang cocok untuk pengembangan hub hidrogen atau amonia hijau, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Pekanbaru (Riau), Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Aceh, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan.

Rheza mencontohkan, Kalimantan Timur dinilai cukup potensial jadi hub karena banyaknya industri padat energi yang perlu dekarbonisasi. “Ada produksi pupuk yang besar di sana. Jadi ada anchor demand awal yang baik,” kata dia. 

Saat ini, pembangunan fasilitas produksi amonia – campuran hidrogen dan nitrogen – hijau terbesar di Indonesia tengah digarap di Aceh, di bawah kendali PT Pupuk Indonesia (Persero), PT PLN, dan perusahaan energi asal Arab Saudi ACWA Power. Fasilitas di Aceh ini dekat dengan pelabuhan sehingga mendukung distribusinya untuk industri dalam negeri maupun ekspor.

Proyeksi IESR, permintaan hidrogen yang cukup tinggi akan datang dari Jawa Timur, Banten, Riau, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, Bali dan NTB, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Maluku, serta Papua Barat. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...