Kapasitas PLTS Atap Capai 1,3 GW, Tumbuh Hampir 10 Kali Lipat Sejak 2024
Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap telah mencapai 1,3 Gigawatt (GW) dalam waktu singkat, tumbuh hampir sepuluh kali lipat dari 146 MW pada 2024. Pencapaian ini disebut sebagai fondasi menuju pengembangan 100 GW energi surya nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) meluncurkan inisiatif 1,3 GW PLTS atap, pada Selasa (21/4). Inisiatif ini menjadi bagian dari Road to IndoSolar 2026, platform kolaborasi nasional yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, dan mitra internasional untuk mempercepat pengembangan energi surya di Indonesia.
PLTS atap menjadi salah satu solusi paling strategis karena dapat diterapkan secara cepat, modular, terdistribusi, dan menjangkau berbagai segmen pengguna, dari rumah tangga hingga industri. Menurut kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi PLTS di Indonesia mencapai 165,9 GW untuk PLTS darat dan 38,13 GW untuk PLTS terapung.
"Capaian ini menunjukkan energi surya bukan lagi potensi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis nasional. Dengan dukungan ekosistem industri yang semakin matang, AESI siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat implementasi PLTS dan mewujudkan target transisi energi Indonesia," ujar Mada Ayu Habsari, Ketua Umum AESI, dalam National Solar Transition Forum 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (21/4).
Saat ini AESI memiliki 135 anggota yang mewakili berbagai elemen ekosistem energi surya, mulai dari manufaktur, pengembang proyek, penyedia teknologi, Lembaga keuangan, dan Lembaga sertifikasi. Ekosistem yang lengkap menjadi modal penting untuk mempercepat skala pengembangan industri surya nasional.
Target Pemerintah 100 GW
Direktur Jenderal Energi Baru, Energi Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, total kapasitas terpasang PLTS ditargetkan sebesar 17,1 GW. Namun, Presiden Prabowo Subianto menginginkan total kapasitas PLTS bakal mencapai 100 GW.
Menurut Eniya, total kapasitas terpasang untuk PLTS saat ini telah mencapai 1,5 GW sedangkan untuk PLTS atap saja mencapai 895 MW.
"Target pengembangan PLTS nasional akan mencapai 80 hingga 100 GW. Target ambisius ini diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga pada penciptaan permintaan (demand creation) yang dapat menggerakkan industri energi surya dalam negeri," ujarnya.
Eniya menyebut realisasi program PLTS tidak hanya mendukung bauran energi bersih. Program ini juga membuka potensi penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar. "Kami menghitung setidaknya ada 760 ribu pekerjaan baru yang bisa tercipta dari program PLTS ini," kata Eniya.
Ke depan, pemerintah akan memperluas penggunaan PLTS bukan hanya di atap bangunan (rooftop) tetapi juga di permukaan tanah (ground-mounted). Terutama, di sekitar koperasi desa, fasilitas Kesehatan, seperti puskesmas, dan untuk akselerasi kendaraan listrik.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyatakan pencapaian 1,3 GW PLTS atap menjadi langkah penting untuk mendorong pemanfaatan energi surya di Indonesia. "Ke depan, kolaborasi dalam pengembangan PLTS atap diharapkan semakin luas dan dapat mempercepat pemanfaatan energi surya di berbagai sektor," ujar Adi, dalam sambutannya.
Untuk mempermudah pemasangan PLTS atap, PLN menghadirkan fitur perizinan PLTS atap melalui aplikasi PLN Mobile. Lewat fitur ini, pelanggan dapat mengajukan permohonan, memantau proses secara transparan, dan merasakan layanan yang lebih cepat dan mudah.
AESI menilai inisiatif 1,3 GW PLTS atap akan menjadi katalis bagi pengembangan energi surya dalam skala besar. "Dengan kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, PLN, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan energi surya sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi hijau nasional," kata Mada.
