ADB Umumkan Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia US$ 50 Miliar

Ajeng Dwita Ayuningtyas
4 Mei 2026, 17:23
ADB, energi terbarukan, Pan-Asia Power Grid
Vecteezy.com/Papan Saengkutrueang
Bank Pembangunan Asia (ADB) mengumumkan rencana Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia senilai US$ 50 miliar atau Rp 869,45 triliun (kurs Rp 17.390 per dolar AS) untuk memperluas jaringan dan akses listrik di kawasan Asia-Pasifik.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Pembangunan Asia (ADB) mengumumkan rencana Inisiatif Jaringan Listrik Pan-Asia senilai US$ 50 miliar atau Rp 869,45 triliun (kurs Rp 17.390 per dolar AS) untuk memperluas jaringan dan akses listrik di kawasan Asia-Pasifik. Proyek ini mencakup penambahan kapasitas energi listrik dari sumber terbarukan. 

Program ini akan menghubungkan sistem tenaga nasional dan subregional sehingga energi terbarukan dapat mengalir hingga lintas perbatasan negara-negara Asia-Pasifik. 

Untuk menjalankan program ini, ADB akan menggandeng pemerintah, perusahaan utilitas, sektor swasta, dan mitra pembangunan untuk memobilisasi Rp 869,45 triliun hingga 2035. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun infrastruktur listrik lintas batas, yang dapat membuka potensi energi terbarukan dalam skala besar.

Inisiatif akan fokus pada transmisi dan integrasi jaringan, termasuk integrasi jalur lintas batas, gardu induk, penyimpanan, dan digitalisasi jaringan. 

Inisiatif ini sekaligus mendukung pembangkit listrik yang terkait dengan perdagangan listrik, misalnya proyek ekspor energi terbarukan, pusat energi terbarukan regional, serta fasilitas pembangkitan-penyimpanan hibrida. 

Pada 2035, ADB akan mengintegrasikan sekitar 20 gigawatt (GW) energi terbarukan lintas batas, menghubungkan 22 ribu km sirkuit jalur transmisi. Proyek itu akan meningkatkan akses energi 200 juta orang, menciptakan 840 ribu lowongan pekerjaan, serta mengurangi emisi sektor listrik regional hingga 15%. 

Namun, hanya setengah dari total pendanaan yang akan ditanggung langsung oleh ADB. Sisanya, akan diperoleh melalui pembiayaan bersama, termasuk dari sektor swasta. 

Inisiatif Jaringan Pan-Asia menandai pergeseran dari hubungan energi antarnegara ke pendekatan regional untuk perdagangan listrik. Program dibangun di atas inisiatif kerja sama subregional yang sudah ada, termasuk the South Asia Subregional Economic Cooperation, perencanaan interkoneksi jaringan the Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation, the ASEAN Power Grid, and the Central Asia Regional Economic Cooperation Energy Strategy 2030.

 

Bangun ‘Jalan Raya Digital’ di Kawasan Asia-Pasifik

Bersamaan dengan program tersebut, ADB juga mengumumkan adanya program Asia-Pacific Digital Highway yang akan memobilisasi US$20 miliar pada 2035 untuk biayai koridor digital, infrastruktur data, dan ekonomi yang siap menghadapi era kecerdasan buatan (AI).

Presiden ADB Masato Kanda mengatakan, energi dan akses digital akan menentukan masa depan kawasan. Keduanya dibutuhkan agar kawasan ini tumbuh, mampu bersaing, dan saling terhubung. 

“Dengan menghubungkan jaringan listrik dan jaringan digital lintas batas, kita dapat menurunkan biaya, memperluas peluang, dan menghadirkan listrik dan akses digital yang andal kepada ratusan juta orang,” kata Kanda, dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (4/5).

Investasi fokus pada infrastruktur yang terhubung, termasuk jaringan serat optik di darat dan bawah laut, tautan satelit dan pusat data regional.

ADB turut memberi dukungan berupa kebijakan dan regulasi, termasuk manajemen risiko keamanan siber, serta berinvestasi dalam program keterampilan untuk perkuat kesiapan digital dan AI. 

Pada 2035, inisiatif ini bertujuan untuk menyediakan akses broadband pertama kali ke 200 juta orang dan konektivitas digital yang lebih cepat dan lebih andal untuk 450 juta orang lainnya di Asia-Pasifik.

Hal ini diharapkan dapat mengurangi biaya konektivitas di daerah terpencil dan terisolasi hingga 40% dan membantu menciptakan 4 juta lapangan pekerjaan.

Rencananya, ADB akan membiayai US$ 15 miliar atau Rp 260,8 triliun untuk inisiatif tersebut dan mengumpulkan US$5 miliar atau Rp 86,9 triliun melalui pembiayaan bersama, termasuk dari sektor swasta. Pusat Inovasi dan Pengembangan AI akan didirikan di Seoul, Korea Selatan dan sudah mendapat kontribusi US$ 20 juta atau Rp 347,8 miliar dari Pemerintah Korea Selatan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...