Satu Dekade, Tiga Blackout: Rapuhnya Jaringan Listrik Raksasa Disorot

Ajeng Dwita Ayuningtyas
25 Mei 2026, 11:46
Pedagang menggunakan penerangan darurat saat terjadi pemadaman listrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5/2026). PLN menyatakan pemadaman listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Sumatera dipicu gangguan pada sistem transmisi interkoneksi Saluran Udara
ANTARA FOTO/Akramul Muslim/foc.
Pedagang menggunakan penerangan darurat saat terjadi pemadaman listrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5/2026). PLN menyatakan pemadaman listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Sumatera dipicu gangguan pada sistem transmisi interkoneksi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV ruas Lubuk Linggau–Lahat, Sumatera Selatan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebagian besar wilayah Sumatra gelap gulita pada Jumat (22/5). Padamnya listrik dalam skala besar atau dikenal dengan istilah blackout sudah beberapa kali terjadi dengan penyebab yang sama yaitu gangguan transmisi listrik imbas cuaca buruk. 

Organisasi non-pemerintah bidang transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan Trend Asia mencatat, setidaknya ada tiga kejadian serupa dalam 10 tahun terakhir. Blackout di Jawa (2019), Sumatra (2024), dan Bali (2025).

Kondisi ini menjadi peringatan: infrastruktur kelistrikan dalam skala besar, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang bergantung pada jaringan pembangkit dan transmisi pusat, rentan mengalami disrupsi skala besar pula. 

Juru Kampanye Renewable Energy Trend Asia Beyrra Triasdian mengatakan, di tengah krisis iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi, sistem kelistrikan seperti ini justru memperbesar risiko blackout yang luas. 

“Situasi ini menjadi peringatan bahwa sistem energi tidak bisa terus dibangun melalui pendekatan lama yang bertumpu pada pembangkit besar dan transmisi panjang,” kata Beyyra, dalam keterangan tertulis dikutip pada Senin (25/5). 

Menurut dia, pemerintah perlu mempercepat desentralisasi energi berbasis energi terbarukan komunitas, untuk membangun sistem yang lebih tangguh, adil, dan tidak mudah lumpuh saat terjadi krisis energi". 

Senada, Institute for Essential Services Reform (IESR) merekomendasikan, konsumen listrik baik kelompok rumah tangga maupun bisnis yang mampu secara ekonomi dapat memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk meningkatkan ketahanan listrik pelanggan. PLTS juga bisa dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) agar semakin optimal. 

Selain meningkatkan ketahanan, alternatif ini membantu mengurangi kerugian akibat pemadaman listrik, menghindari genset berbahan bakar minyak yang mahal, serta mendukung transisi energi bersih di Indonesia. 

Pemerintah Didesak Gelar Investigasi: Sistem Listrik Modern Seharusnya Tak Selemah Ini

CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, gangguan pada satu jalur transmisi di sistem kelistrikan modern seharusnya tidak berkembang menjadi blackout regional. Sebab itu, IESR mendesak pemerintah menginvestigasi penyebab langsung, faktor pemicu, dan akar masalah sistemik dari insiden blackout Sumatra.

“Gangguan awal akibat cuaca ekstrem mungkin saja menjadi pemicu langsung, tetapi akar masalahnya dapat berkaitan dengan lemahnya redundansi jaringan transmisi, bottleneck sistem, ketidakcukupan cadangan daya, serta kelemahan pada sistem proteksi dan pengendalian grid,” ucap dia. Lemahnya redundansi jaringan transmisi maksudnya, jaringan transmisi tidak memiliki jalur cadangan.

Menurut dia, investigasi perlu dilakukan secara independen, melibatkan para pakar non-pemerintah dan berbasis data teknis seperti relay logs, SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), PMU atau frequency records, sequence of events, kondisi aset transmisi, serta performa sistem proteksi dan operasi pembangkit.

Hasil investigasi pun harus diungkap kepada publik. Fabby mengatakan, pada sejumlah kasus serupa sebelumnya, publik tidak mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai hasil investigasi. Hal ini dinilai menghambat pembelajaran kelembagaan dan perbaikan sistem ketenagalistrikan nasional.

Di samping itu, IESR meminta PLN untuk memberikan kompensasi atas kerugian pelanggan. Ini sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2025 tentang Tingkat Mutu Pelayanan. 

Untuk mencegah kejadian serupa berulang lagi ke depan, IESR mendesak PLN untuk memperkuat jaringan transmisi dan distribusi listrik. Ini termasuk lewat peningkatan redundansi sistem, modernisasi proteksi grid, pengembangan smart grid, serta investasi pada sistem pengendalian dan fleksibilitas jaringan. 

IESR juga mendorong PLN dan pemerintah untuk mempercepat penyelesaian jaringan transmisi 500 kV dari Lahat ke Medan, yang seharusnya selesai pada 2019 lalu. 

“Jaringan transmisi 500 kV ini seharusnya menjadi jalan tol listrik di sistem Sumatra. Walaupun bukan penyebab langsung, tetapi tertundanya proyek 500 kV Sumatra membuat sistem masih terlalu bergantung pada backbone 275 kV,” kata dia. 

Juru Kampanye Energi Fosil Trend Asia Novita Indri Pratiwi mengatakan, insiden blackout berulang harusnya menjadi momentum pemerintah untuk mengevaluasi ketergantungan pada pembangkit batu bara, serta melepas solusi palsu pembangkit gas. 

“Kejadian blackout Sumatra ini harusnya menjadi titik balik pemerintah untuk merevisi RUPTL 2025-2034 dan RUKN 2025-2060, serta segera mempercepat phase out energi fosil yang akan memperparah krisis iklim dan memicu krisis berulang,” ucap Novita. 

IESR memperingatkan pemadaman besar berulang berisiko menurunkan kepercayaan investor Di tengah meningkatnya elektrifikasi sektor transportasi dan industri, pertumbuhan pusat data, serta penetrasi energi terbarukan seperti PLTS, dibutuhkan sistem kelistrikan yang kuat, fleksibel, dan berdaya tahan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...