Forum Ekonomi Dunia Sebut Elektrifikasi Jadi Kunci Transisi Energi di ASEAN

Ajeng Dwita Ayuningtyas
9 Juni 2026, 16:18
ASEAN, elektrifikasi, energi terbarukan
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menilai elektrifikasi menjadi faktor kunci yang menentukan tercapainya tujuan iklim dan ketahanan energi di kawasan ASEAN.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menilai elektrifikasi menjadi faktor kunci yang menentukan tercapainya tujuan iklim dan ketahanan energi di kawasan ASEAN. Permintaan listrik seluruh ASEAN meningkat, sementara bahan bakar fosil terus menipis, ditambah risiko geopolitik yang mengguncang pasokan energi.

Pada periode 2015 hingga 2025, permintaan listrik di ASEAN tumbuh lebih dari 60% didorong oleh industrialisasi, urbanisasi, digitalisasi, dan meningkatnya kebutuhan fasilitas pendinginan. Hingga 2035, permintaan listrik di kawasan diproyeksikan tumbuh sekitar 4%.

Sementara, sumber daya minyak dan gas domestik akan terus menipis di Indonesia dan Malaysia, hingga mendorong kawasan ini untuk menjadi pengimpor gas bersih ke depan. Situasi ini justru makin menggarisbawahi pentingnya pengembangan sistem energi domestik terbarukan. 

Asia Tenggara diperkirakan mengantongi sekitar 20 Terawatt potensi energi surya dan angin yang belum dikembangkan. 

“Elektrifikasi bersih muncul sebagai jalur yang menyelaraskan keamanan energi dengan tujuan transisi jangka panjang,” kata WEF seperti dikutip dari laman resmi WEF, pada Selasa (9/6).

Untuk memanfaatkan sumber daya terbarukan lokal lebih besar, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kerentanan dari guncangan eksternal, WEF menilai ASEAN memerlukan sistem ketenagalistrikan yang tangguh dan saling terhubung. 

WEF menilai, jaringan listrik sama pentingnya dengan pembangkitan listrik itu sendiri. Bukan hanya memperluas pasokan listrik, tapi juga membangun sistem yang mampu mendukung transisi ini. 

“Peningkatan pangsa energi terbarukan membutuhkan sistem yang lebih fleksibel dan tangguh, yang didukung oleh modernisasi jaringan dan peningkatan operasional sistem,” demikian tertulis. 

Tanpa perencanaan dan koordinasi sistem yang kuat, laju penerapan energi terbarukan bisa-bisa melampaui kemampuan sistem tenaga listrik. 

Meskipun beberapa pasar masih bergantung pada pembangkit listrik termal yang fleksibel selama periode transisi, pengalaman Cina justru menunjukkan integrasi energi terbarukan skala besar bergantung pada perencanaan jaringan yang terkoordinasi, jaringan transmisi yang kuat, serta investasi pada sumber daya fleksibilitas seperti penyimpanan energi atau baterai. 

Di luar sistem nasional, WEF menggarisbawahi pentingnya koordinasi di tingkat regional. “Negara-negara ASEAN memiliki sumber daya energi terbarukan dan pola kebutuhan listrik beragam, sehingga ada peluang untuk meningkat efisiensi sistem melalui kerja sama lintas batas,” kata WEF. 

Transisi Energi ASEAN

Sistem tenaga listrik regional Southern African Power Pool, misalnya, menerapkan interkoneksi bertahap dan mekanisme kerja sama sukarela sehingga mampu meningkatkan keandalan sistem dan mendukung integrasi energi terbarukan, sekalipun di wilayah yang sangat beragam. 

Dalam hal ini, WEF menilai transisi energi ASEAN akan bergantung pada dua hal: sistem domestik yang lebih kuat dan integrasi regional. 

Di tingkat regional, kerja sama kini berkembang dari pertukaran listrik bilateral menjadi multilateral yang lebih terstruktur. Misalnya, Nota Kesepahaman Enhanced ASEAN Power Grid yang diteken pada 2025. Kesepakatan ini menandai pergeseran dengan mempromosikan perdagangan listrik multilateral, integrasi energi terbarukan, dan perencanaan sistem yang terkoordinasi. 

Kesepakatan tersebut membantu memfasilitasi pengembangan lebih dari 18 interkoneksi lintas batas negara, dengan sejumlah proyek tambahan yang masih dalam tahap pengembangan. 

Upaya lain regional, seperti ASEAN Power Grid Financing Initiative dan Greater Mekong Subregion Economic Cooperation Frameworks turut menyediakan landasan untuk integrasi dan kolaborasi yang lebih mendalam. 

“Tidak ada satu negara pun yang dapat sepenuhnya menyeimbangkan stabilitas sistem, fleksibilitas, dan efisiensi biaya sendirian dalam transisi energi,” kata WEF di laman resminya.

Lembaga keuangan internasional, seperti Asian Development Bank (ADB) dan World Bank juga menciptakan peluang baru untuk pengembangan infrastruktur, serta sarana berbagi pengetahuan dan peningkatan kapasitas di bidang perencanaan sistem dan desain pasar.

Initiative Future of Power Systems dari WEF turut serta untuk membantu para pemangku kepentingan memajukan elektrifikasi di seluruh dunia. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi yang diperlukan agar pembangunan infrastruktur sektor tenaga listrik dan inovasi perkembang cepat, termasuk menampilkan studi kasus inovatif, serta menyusun jalur transisi yang sesuai dengan karakteristik wilayah. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...