Bloomberg Gelontorkan Rp5 Triliun Agar Surya dan Angin Kuasai Pasar Listrik

Martha Ruth Thertina
22 Juni 2026, 13:11
Pendiri Bloomberg Philanthropies Michael R. Bloomberg mengumumkan komitmen pendanaan sebesar US$285 juta atau sekitar Rp5 triliun untuk mempercepat pengembangan energi bersih di negara yang sedang tumbuh dan berkembang, Senin (22/6).
NYT
Pendiri Bloomberg Philanthropies Michael R. Bloomberg mengumumkan komitmen pendanaan sebesar US$285 juta atau sekitar Rp5 triliun untuk mempercepat pengembangan energi bersih di negara yang sedang tumbuh dan berkembang, Senin (22/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bloomberg Philanthropies mengumumkan komitmen pendanaan sebesar US$285 juta atau sekitar Rp5 triliun untuk mempercepat pengembangan energi bersih di negara yang sedang tumbuh dan berkembang -- tempat permintaan listrik meningkat cepat.

Pendiri Bloomberg Philanthropies sekaligus Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Komitmen dan Solusi Iklim Michael R. Bloomberg mengatakan energi bersih kini telah menjadi sumber listrik yang lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil di sebagian besar wilayah dunia. Namun, berbagai hambatan kelembagaan, regulasi, dan pasar masih memperlambat pengembangannya.

"Dengan peningkatan permintaan energi yang berlangsung pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kami tidak dapat membiarkan hambatan tersebut terus menghalangi transisi energi bersih," kata Bloomberg dalam keterangan resmi, Senin (22/6).

Berfokus pada negara-negara yang bertanggung jawab atas hampir 70 persen emisi sektor energi global, pendanaan tersebut ditujukan untuk mempercepat pemanfaatan energi surya dan angin. Targetnya, negara-negara tersebut mampu memenuhi lebih dari separuh kebutuhan listriknya dari energi bersih tersebut.

Program yang didanai Bloomberg Philanthropies mencakup penguatan asosiasi industri energi bersih dan jaringan regional agar lebih terlibat dalam perencanaan dan pembiayaan sektor energi. Selain itu, dana juga akan digunakan untuk mendukung penyediaan data, analisis ekonomi, dan kajian teknis guna menunjukkan bahwa energi bersih dapat menyediakan listrik yang andal dan terjangkau dalam skala besar.

Bloomberg Philanthropies juga akan menyediakan bantuan teknis bagi pemerintah untuk memperbaiki kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang mendukung percepatan pembangunan energi bersih. Di sisi lain, organisasi tersebut akan menggandeng lembaga keuangan dan investor untuk memperluas akses pembiayaan bagi proyek-proyek energi terbarukan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengatakan percepatan pembangunan energi bersih menjadi semakin penting di tengah lonjakan kebutuhan listrik global. "Era energi bersih telah tiba. Pengembangannya harus dipercepat di negara-negara yang paling membutuhkan," ujarnya.

Bloomberg Philanthropies mencatat energi terbarukan telah menyumbang 3 persen produksi listrik global pada 2025, melampaui batu bara yang porsinya mencapai 33 persen. Ini menjadi pertama kalinya dalam hampir satu abad energi terbarukan menghasilkan listrik lebih besar dibandingkan batu bara.

Pada 2030, energi terbarukan dan nuklir diproyeksikan menghasilkan sekitar separuh produksi listrik dunia.

Meski demikian, perkembangan teknologi energi bersih dinilai belum sepenuhnya diimbangi oleh kesiapan ekosistem industrinya. Di banyak negara, sektor energi bersih masih menghadapi keterbatasan sumber daya, akses pembiayaan, kapasitas teknis, serta pengaruh kebijakan dibandingkan industri energi konvensional yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Respons dari Indonesia

Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari mengatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama energi surya. Selain didukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sumber daya energi terbarukan yang melimpah, pemerintah juga menargetkan pengembangan kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt (GW), termasuk melalui program Quick Win 17 GW.

Menurut Mada, realisasi target tersebut membutuhkan lebih dari sekadar ambisi. Indonesia memerlukan asosiasi industri yang kuat, keterlibatan aktif dalam penyusunan kebijakan, serta regulasi yang mampu mengikuti perkembangan pasar energi surya.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah tengah menyusun Prospek Pekerjaan Hijau Indonesia, memperkuat standar kompetensi hijau, serta memperbarui kurikulum pelatihan vokasi agar selaras dengan kebutuhan sektor energi bersih.

"Transisi energi Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mendorong kemakmuran bersama," kata Yassierli.

Direktur Eksekutif ViriyaENB Suzanty Sitorus mengatakan pilihan energi yang diambil Indonesia saat ini akan turut menentukan arah transisi energi di Asia Tenggara. Menurut dia, target pembangunan 100 GW tenaga surya membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat, perencanaan yang matang, serta kemampuan menghadirkan proyek yang terjangkau dan andal bagi masyarakat.

Jejak Bloomberg Philanthropies di Bidang Transisi Energi

Bloomberg Philanthropies merupakan organisasi filantropi yang berinvestasi di lebih dari 700 kota dan 150 negara. Organisasi yang didirikan Michael Bloomberg itu berfokus pada bidang lingkungan, kesehatan masyarakat, pendidikan, seni, dan inovasi pemerintahan.

Bloomberg sudah lebih dari satu dekade terlibat dalam upaya mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Bloomberg Philanthropies mulai mendukung kampanye Beyond Coal di Amerika Serikat pada 2011 dan memperluas program tersebut ke tingkat internasional pada 2017.

Organisasi itu mengklaim telah berkontribusi terhadap pembatalan hampir 450 proyek pembangkit listrik tenaga batu bara di empat benua, termasuk lebih dari 60 persen proyek PLTU di Eropa.

Selain itu, bersama berbagai mitra internasional, Bloomberg Philanthropies mengklaim turut membantu terciptanya kondisi yang mendukung pengembangan lebih dari 1.100 GW kapasitas penyimpanan energi bersih, yang disebut cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 300 juta rumah tangga.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...