Bali Targetkan Mandiri Energi Bersih, Gubernur Minta PLN Tak Batasi PLTS Atap
Gubernur Bali I Wayan Koster tengah mendorong pemanfaatan energi surya untuk mencapai visi Bali Mandiri Energi dengan memanfaatkan penggunaan energi bersih dari Pulau Dewata. Namun, ia meminta PLN melonggarkan kuota pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.
Koster mengungkapkan ia telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, serta Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Namun, regulasi itu terhambat oleh kesepakatan pemanfaatan PLTS atap dengan PLN.
“Ini mulai jalan. Saya berkomunikasi dengan dirut PLN, awalnya alot. Awalnya enggak setuju, belakangan agak setuju,” ujar Koster dalam Indonesia Solar Summit 2026, Selasa (14/7).
Pada awalnya, jatah kuota PLTS atap untuk Provinsi Bali hanya 20% dari total kuota nasional. Setelah melewati diskusi alot tersebut, kuota ini mulai dilonggarkan. “Waktu itu disampaikan akan diberikan Bali ini jatah kuota untuk PLTS itu 500 MW,” ujar Koster.
Dalam forum tersebut, Koster beberapa kali ‘menyentil’ PLN agar memberi keleluasaan bagi daerah yang ingin mengembangkan potensi energi surya dan mengesampingkan konflik kepentingan terkait penggunaan batu bara. "Berikan kesempatan kepada daerah seluas-luasnya untuk memanfaatkan energi surya ini. Supaya lebih cepat," ujarnya.
Senada dengan hal itu, CEO Institute for Essential Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan Bali berpeluang menjadi destinasi wisata rendah karbon berbasis energi surya. Ini juga sejalan dengan program 100 GW PLTS yang tengah dikejar pemerintah.
"Program ini akan terlaksana dengan PLTS di atap-atap bangunan pemerintah, kawasan industri, kawasan pariwisata, di atas waduk, danau, desa, pulau kecil, di berbagai pusat pertumbuhan ekonomi seluruh Indonesia," kata Fabby.
Pembangkit Listrik Tenaga Gas
Selain pengembangan PLTS Atap, Koster juga membeberkan rencana pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan bertenaga gas, dengan kapasitas total 1.550 Megawatt (MW). Rencana ini tak lepas dari pertimbangan Bali sebagai ruang hidup, sekaligus wajah pariwisata Indonesia yang harus bebas polusi.
Menurutnya, rencana ini sudah disepakati dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dan PLN. “Pembangkitnya akan dibangun di Bali, jadwalnya itu mulai tahun ini,” kata Koster.
Tahun ini, pembangkit listrik tenaga gas berkapasitas 200 MW dibangun di Pesanggaran, Kota Denpasar. Pembangunan pembangkit berikutnya akan dilakukan secara bertahap, hingga terbangun seluruhnya pada 2031 mendatang.
“Kalau ini berjalan, maka sumber polusi udara dari pembangkit itu clear sudah,” ucap dia. Meskipun begitu, Koster tak menampik sektor transportasi sebagai sumber polutan lainnya.
