Danantara Bidik Investasi Industri Hulu Panel Surya
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membidik perluasan investasi di ekosistem hulu industri panel surya, salah satunya dengan pengembangan pasir silika sebagai bahan baku utama panel surya.
Meski industri panel surya telah terbentuk di sisi hilir dengan produksi dan perakitan modul, rantai hulu seperti produksi polisilikon, ingot, wafer, dan low iron tempered glass sebagai bahan baku sel surya masih belum tersedia di Indonesia.
Managing Director BPI Danantara Ardy Muawin mengatakan Program 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi anchor project untuk ‘menggalakkan’ industri hulu panel surya ini.
“Makanya ini bukan hilirisasi, ada huluisasinya juga, karena kita punya silika banyak,” kata Ardy, dalam Katadata Policy Dialogue ‘Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan’ di Kantor Katadata, Jakarta, Selasa (28/7).
Dia mengatakan, Danantara memiliki peran untuk melakukan investasi di titik-titik yang bisa mendorong industrialisasi. “Pemerintah sudah lakukan dari zaman Pak Jokowi dengan nikel, kita lanjutkan dengan yang lain-lain, ada bauksit, harapannya ada silika,” ujar Ardy.
Mengutip keterangan Institute for Essential Service Reform (IESR) di laman resminya, saat ini belum ada industri hulu panel surya seperti produksi polisilikon, ingot, wafer, dan low iron tempered glass di dalam negeri. Padahal, cadangan pasir kuarsa atau pasir kuarsa sebagai bahan baku polisilikon mencapai 17 miliar ton. Potensi ini tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Sementara menurut dokumen paparan Kementerian Perindustrian bertajuk ‘Industri Modul Surya Dalam Negeri dalam Transisi Energi Nasional’, saat ini sudah ada 34 pabrik modul surya yang beroperasi di Indonesia. Total produksinya mencapai 10.944 MW per tahun. Artinya, sudah ada industri yang siap menangkap produk hilirisasi pasir silika ini.
Prioritaskan Pengembangan Mineral untuk Teknologi Energi Bersih
CEO IESR Fabby Tumiwa menjelaskan, Indonesia memiliki mineral kritis yang melimpah untuk mendukung industri PLTS. Ia kemudian mendorong Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional agar memprioritaskan pengembangan mineral untuk teknologi energi bersih.
Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Dimas Muhamad tak menampik bahwa dukungan kebijakan sangat dibutuhkan untuk mendorong industrialisasi PLTS.
“Kalau tidak ada dukungan kebijakan, misalnya TKDN, developer, PLN, pasti akan memilih yang paling murah. Sekarang yang paling murah mulai dari modul, sel, pasti dari Cina,” kata Dimas.
Menurut dia, yang utama adalah dukungan kebijakan yang tidak hanya menyasar perakitan, tapi juga seluruh komponen panel surya.
“Sekarang sedang dirumuskan oleh pemerintah, perencanaannya sedang dimatangkan, kita sedang susun payung hukumnya, mudah-mudahan yang menjadi terobosan pengadaan PLTS ini bisa lebih cepat,” ucap dia.
