Garap Potensi Geotermal Gunung Ungaran, PLN Pertimbangkan Candi dan Sumber Air
PT PLN (Persero) menyatakan pengeboran untuk eksplorasi potensi geotermal atau panas bumi Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tidak berada pada area Candi Gedong Songo. Perusahaan juga akan mempertimbangkan berbagai faktor yang menjadi kekhawatiran masyarakat sebelum melaksanakan pembangunan PLTP di kawasan tersebut.
Sebelumnya, kekhawatiran khalayak muncul ketika kompleks bangunan Candi Hindu peninggalan Mataram Kuno tersebut masuk dalam luasan eksplorasi PLTP. Hal ini menyebabkan penolakan dari masyarakat dengan ribuan petisi bertandatangan.
Menanggapi keresahan tersebut, Ferdyan Hijrah Kusuma, Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Jawa Bagian Tengah, mengatakan rencana titik pengeboran tidak berada pada area Candi Gedong Songo.
"Sampai saat ini proyek PLTP Gunung Ungaran masih berada dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan, serta belum memasuki tahap konstruksi maupun pengeboran," kata Ferdyan seperti dikutip Antara, Minggu (6/9).
Ia mengatakan proses pengembangan PLTP ini akan benar-benar memperhatikan pada hasil kajian dan ketentuan yang berlaku.
"Apabila nantinya kegiatan memasuki tahap eksplorasi, lokasi pengeboran akan ditentukan dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis, ketentuan zonasi, serta aturan perlindungan cagar budaya yang berlaku," katanya.
Warga Khawatir Proyek PLTP akan Berdampak pada Sumber Air
Selain permasalahan terkait kehadiran cagar budaya di wilayah eksplorasi PLTP Gunung Ungaran, sejumlah penolakan juga hadir dari kekhawatiran bahwa proyek ini akan berdampak pada sumber air di sekitar wilayah berdirinya PLTP.
Salah satu bentuk penolakan tersebut adalah petisi online yang diunggah di Facebook oleh Heru P, seorang warga Ungaran, di akun pribadinya pada Kamis (27/8) lalu.
Dalam petisi tersebut, Heru menyebut Gunung Ungaran memiliki peran penting sebagai penyedia sumber air bagi masyarakat dan sektor pertanian. Ia menyebut dalam beberapa tahun terakhir warga sudah merasakan berkurangnya air ketika musim kemarau.
"Masalah utamanya adalah masyarakat membutuhkan jaminan bahwa sumber air dan lingkungan Gunung Ungaran tidak akan dikorbankan tanpa adanya keterbukaan informasi, kajian yang kuat, serta keterlibatan masyarakat yang terdampak,” kata Heru.
Ferdyan mengatakan PLN bersama pihak terkait akan melakukan berbagai kajian yang mencakup aspek teknis, keselamatan, lingkungan, sosial, tata ruang, perizinan hingga pelestarian cagar budaya.
"PLN menghormati perhatian dan aspirasi masyarakat terkait rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Ungaran. Saat ini rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan belum memasuki tahap konstruksi maupun pengeboran," ujarnya.
Setiap tahapan akan mempertimbangkan hasil kajian serta ketentuan dan peraturan yang berlaku. Masukan dan aspirasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses perencanaan PLN.
Menurutnya, PLN memahami keberadaan sumber air dan keberlangsungan aktivitas sosial masyarakat merupakan perhatian penting dalam rencana pengembangan panas bumi.
Karena itu, aspek kebutuhan air serta potensi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi bagian penting dari kajian yang dilakukan sebelum eksplorasi dilakukan.
Ia memastikan pengembangan panas bumi ini juga memperhatikan kondisi bawah permukaan. Sebelum menentukan lokasi sumur, PLN melakukan penelitian geologi dan geofisika untuk memahami kondisi batuan, air, panas, dan struktur bawah permukaan sebagai dasar dalam menentukan lokasi pengeboran.
