IEA: Investasi PLTS Global Berpotensi Salip Migas, Tembus Rp 15 T/Hari
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan investasi global di bidang energi baru terbarukan (EBT), terutama pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), berpotensi menyalip investasi di sektor migas tahun ini.
Adapun investasi di sektor energi tahun ini akan mencapai sekitar US$ 2,8 triliun atau Rp 45,2 kuadriliun. Dari jumlah tersebut, lebih dari US$ 1,7 triliun atau sekitar Rp 25,8 kuadriliun akan digunakan untuk teknologi energi bersih seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi baterai.
Dalam laporan World Energy Investment IEA, investasi teknologi tenaga surya atau PLTS diperkirakan akan tembus hingga US$ 1 miliar atau Rp 15 triliun per hari pada tahun ini, menyalip investasi pada sektor migas untuk pertama kalinya.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, ada kesenjangan yang semakin besar antara investasi di bidang energi fosil dan investasi di bidang energi baru terbarukan atau energi bersih.
"Ada tiga alasan untuk hal ini, pertama, biaya energi bersih seperti tenaga surya dan angin semakin lama semakin murah," ujarnya, dikutip dari CNBC NEWS International, Kamis (10/8).
Kemudian Birol menyebutkan alasan kedua yakni, saat ini banyaknya pemerintah yang melihat sumber energi bersih, energi terbarukan, mobil listrik, hingga tenaga nuklir sebagai solusi jangka panjang untuk masalah keamanan energi mereka, selain isu perubahan iklim.
Adapun alasan ketiga yaitu strategi industri, dengan menyebutkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi Amerika Serikat dan program-program serta kebijakan-kebijakan lain di Eropa, Jepang, India dan Cina.
"Pemerintah, investor, melihat bahwa babak berikutnya dari industri ini adalah manufaktur teknologi energi bersih, baterai, mobil listrik, panel surya, dan mereka memberikan insentif yang sangat besar untuk menarik investasi," kata Birol.
Sementara itu, para pendukung transisi energi akan menyambut baik perkembangan ini. Namun Birol mengatakan kemungkinan mereka akan kecewa dengan proyeksi IEA yang menyatakan bahwa batu bara, gas, dan minyak masih akan menarik investasi yang cukup besar tahun ini, yakni sedikit di atas US$ 1 triliun atau sekitar Rp 15 kuadriliun.
"Pengeluaran investasi bahan bakar fosil saat ini lebih dari dua kali lipat dari tingkat yang dibutuhkan dalam skenario net zero emission 2050. Kemudian, ketidaksejajaran untuk batu bara sangat mencolok, investasi saat ini hampir enam kali lipat dari persyaratan skenario NZE 2030," kata laporan IEA.
Dampak bahan bakar fosil terhadap lingkungan sangatlah besar. PBB mengatakan bahwa, sejak abad ke-19, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama karena pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
