Cara Desa Goa Pindul Menyulap Tanah Gersang Jadi Hijau

Karunia Putri
4 Agustus 2025, 14:13
penghijauan, goa pindul, desa goa pindul
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/agr
Direktur BCA Antonius Widodo (tengah) didampingi EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn (kanan) mengunjungi rumah pembibitan program Rumah Pangan Hidup di Wirawisata Goa Pindul, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (1/8/2025). Program Rumah Pangan Hidup yang diinisiasi melalui Program Bakti BCA tersebut untuk pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan komunitas masyarakat desa berorientasi pada ketahanan pangan keluarga dan hasil panennya dapat ditabung serta mengembangkan poten
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tanah gersang dan tidak subur sempat membuat warga Desa Goa Pindul, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta hanya bisa menanam singkong. Selama bertahun-tahun, masyarakat di daerah itu  mengandalkan gaplek atau singkong kupas yang dikeringkan sebagai makanan pokok sehari-hari.

Namun, warga Desa Goa Pindul mulai membangun Rumah Pangan Hidup (RPH) guna pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah. Kini, desa yang dulu kering berubah menjadi desa wisata dengan beragam jenis tanaman sayur hingga buah. Tiap rumah memiliki satu lahan tani di depan, samping, hingga belakang rumahnya.

Tiap rumah di Desa Goa Pindul kini memiliki kebun. Aneka tanaman pangan seperti cabai, terung, sawi hingga timun ditanam warga setempat. Mereka menggunakan media tanam hasil daur ulang, mulai dari galon bekas, ban mobil hingga botol plastik. Pupuknya pun berasal dari limbah organik dari makanan sisa atau sampah tani yang tidak digunakan lagi kemudian diolah menjadi eco enzyme dan pupuk cair.

Ketua Rumah Pangan Hidup Desa Goa Pindul Ari Purnawan mengatakan, pemanfaatan pekarangan rumah untuk bertani kini menjadi kebiasaan baru warga. Tak hanya untuk konsumsi rumah tangga, Ari berharap aktivitas ini dapat menarik minat wisatawan yang ingin belajar bertani secara langsung.

“Wisatawan yang datang ke objek wisata Goa Pindul bisa kami arahkan untuk bermain dan belajar bertani di lahan-lahan pekarangan RPH,” ujar Ari di Goa Pindul, Jumat (1/8). 

Inisiatif RPH sendiri muncul dari kebutuhan untuk menekan pengeluaran bulanan warga. Warga didorong menanam bahan pangan sendiri untuk kebutuhan dapur, sehingga tidak tergantung pada pasar.

Desa Goa Pindul merupakan desa binaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). EVP Corporate Communication and Social Responsibility BBCA Hera F. Haryn menjelaskan, program RPH mampu menghemat hingga 50% pengeluaran belanja bulanan rumah tangga. 

“Dari survei kami, sebelumnya satu rumah tangga menghabiskan Rp 1,2 juta per bulan untuk belanja sayur. Setelah ada RPH, pengeluaran berkurang menjadi Rp 900 ribu,” ujar Hera.

Menurut dia, penghematan Rp 300 ribu per bulan itu dapat dialihkan untuk kebutuhan penting lainnya. Uang tersebut setara untuk membayar token listrik selama tiga bulan, biaya sekolah dasar selama satu bulan, atau biaya BBM selama 1,5 bulan.

Selain sayur-mayur, warga juga mulai mengembangkan peternakan ayam dan ikan lele. Air bekas kolam lele bahkan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, sekaligus berfungsi sebagai pupuk organik.

Direktur BBCA Antonius Widodo pun berharap model RPH di Goa Pindul bisa direplikasi oleh desa-desa hingga kecamatan lainnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...