CEO Aliet Green: Bisnis Hijau Butuh Inovasi untuk Hadapi Tantangan Global

Ajeng Dwita Ayuningtyas
22 September 2025, 13:45
Bisnis, industri hijau, ekonomi hijau
Aliet Green
Petani aren menyadap bunga aren untuk diambil niranya dan diolah menjadi gula aren.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

CEO Aliet Green, Lastiana Yuliandari, menyebut perusahaan sosial berbasis hijau seperti perusahaannya harus menghadapi risiko perubahan iklim dan regulasi global yang kian ketat. Bisnis hijau memerlukan inovasi untuk menghadapi tantangan global tersebut.

Lastiana menilai peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam memperkuat ekonomi hijau nasional sangat signifikan.

“Misi kami sejak awal adalah bekerja sama dengan pertanian keluarga kecil, terutama perempuan, melalui produksi gula kelapa organik dan komoditas berkelanjutan lainnya.” kata Lastiana, dalam paparannya di ImpactX 2025 Conference di Jakarta, pekan lalu. 

Produk hijau Aliet Green ini bukan sekadar pangan, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan iklim dan kesejahteraan masyarakat.

Akan tetapi, perjalanan bisnis hijau tidak mudah. Aliet Green menghadapi lonjakan biaya sertifikasi hingga 40 persen pada 2025. Ini diakibatkan perubahan standar dan regulasi di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), tempat mereka mengekspor produknya.

Selain itu, krisis iklim berupa kekeringan panjang 2023–2024 membuat produksi gula aren turun drastis, sementara harga global menekan petani. 

“Kami berupaya menyeimbangkan keuntungan dengan tanggung jawab sosial kepada petani. Itu artinya, pertumbuhan tidak boleh mengorbankan komunitas yang kami layani,” ujar Lastiana.

Melihat situasi ketidakstabilan geopolitik hingga krisis iklim saat ini, Staf Ahli Kementerian Investasi Indra Darmawan, meminta bisnis tak sekadar bertahan. Melainkan harus lebih kuat setelah diterpa krisis. 

“Jangan hanya bersiap menghadapi guncangan, tetapi rancangan bisnis harus lebih tangguh dari itu,” kata Indra, dalam konferensi yang sama. 

Ia menjelaskan, perubahan realitas global menuntut pola pikir baru. Bisnis tidak cukup menjual ide, tetapi harus menciptakan nilai nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian. 

Selain itu, strategi kolaborasi juga harus berubah dari model terbuka menjadi ekosistem yang lebih tertarget dan terlindungi.

Perkuat Ketahanan Usaha Regional

Dalam konteks perdagangan internasional, Indra menilai pendekatan “lokal ke global” kini semakin sulit, akibat banyaknya hambatan dan ketidakpastian. 

Alternatif yang lebih relevan adalah memperkuat jalur “lokal ke regional” untuk membangun portofolio ketahanan usaha.

Sebagai fokus strategis, ia mendorong pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada satu sumber atau negara, serta membangun pusat produksi mandiri di berbagai kawasan. 

“Bangunlah aliansi dan jaringan terpercaya dengan negara serta mitra yang selaras secara politik. Jangan hanya memilih yang termurah,” katanya.

ImpactX 2025 Conference merupakan forum untuk berbagi wawasan industri dan keahlian profesional terkait bisnis berdampak, serta menciptakan ruang berjejaring di dalamnya. 

Forum yang digagas oleh Crevisse, bekerja sama dengan KOICA, Instellar Impact, serta Indonesia Impact Alliance (IIA) ini, menghadirkan para ahli dari sektor publik, swasta, hingga pemangku kebijakan. 

ImpactX merupakan program dukungan dari Crevisse Partners untuk perusahaan berdampak di Indonesia. Tujuannya, membantu bisnis memperluas pasar hingga skala global. ImpactX juga terlibat dalam aktivitas ekspor dan impor melalui investasi dan pendampingan langsung untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...