Deloitte: Transisi Iklim Buka Potensi Ekonomi US$50 Triliun di Asia Pasifik

Image title
22 September 2025, 17:44
Petugas melakukan perawatan rutin panel surya di atas atap gedung baru RSUD dr. Soedomo, Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (23/7/2025). Menurut pihak rumah sakit, pemasangan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk sumber listrik alernatif berkapasit
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/nym
Petugas melakukan perawatan rutin panel surya di atas atap gedung baru RSUD dr. Soedomo, Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (23/7/2025). Menurut pihak rumah sakit, pemasangan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk sumber listrik alernatif berkapasitas 55 kilowatt peak (kWp) tersebut dinilai efektif mengurangi konsumsi listrik reguler dari PLN hingga 25 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Laporan Deloitte menyebut transisi iklim di Asia Pasifik berpotensi menumbuhkan perekonomian kawasan hingga US$50 triliun pada 2070.

Dalam laporan bertajuk “Accelerating Net-Zero: Critical Opportunities in Asia Pacific’s Climate Policy” ini, Deloitte menyebut Asia Pasifik membuka peluang investasi hingga US$90 triliun pada 2050 untuk membangun teknologi baru dan industri pendukung. Laporan itu mengungkapkan, Asia Pasifik memegang peranan penting dalam agenda global, dengan menyumbang 60% populasi dunia, hampir 40% PDB global, dan sekitar 60% emisi karbon.

Deloitte menilai kawasan ini memiliki peluang memimpin revolusi industri nol karbon seperti pertumbuhan ekonomi yang juga pesat yang dialami beberapa dekade terakhir. Namun, perubahan ini menuntut kebijakan industri yang mendalam, transformasi sistem energi, serta percepatan adopsi teknologi rendah karbon.

Para peneliti menyoroti empat tantangan besar dalam dekarbonisasi. Pertama, bahan bakar masa depan yang mahal dan terbatas. Kedua, keterbatasan pasokan mineral kritis. Ketiga, produksi baterai yang menghadapi kemacetan sumber daya. Keempat, transformasi industri berat yang masih bergantung pada bahan bakar tinggi emisi.

Sustainability & Emerging Assurance Leader, Deloitte Southeast Asia, K Ganesan Kolandevelu mengatakan, di Asia Tenggara, langkah menuju net zero akan sangat ditentukan oleh seberapa efektif kita menghadapi gelombang dekarbonisasi berikutnya.

Kawasan ini dinilainya memiliki tantangan tersendiri, yaitu pertumbuhan ekonomi yang pesat, kebutuhan energi yang terus meningkat, serta titik awal yang berbeda-beda di setiap negara.

"Diperlukan arah kebijakan yang jelas dan terkoordinasi untuk membuka peluang investasi berskala besar, memberikan kepastian bagi perkembangan teknologi baru, dan mendorong kolaborasi lintas negara,” ujar K Ganesan Kolandevelu dalam pernyataan resmi, Senin (22/9).

Ia menambahkan, sektor swasta juga harus mendesain ulang cara beroperasi dan rantai pasok untuk menangkap peluang industri rendah karbon yang tengah tumbuh.

“Bila pemerintah dan sektor swasta mampu menyelaraskan ambisi dengan langkah nyata, Asia Tenggara tidak hanya akan mampu melewati transisi ini, tetapi juga berpeluang besar menjadi pusat pertumbuhan berkelanjutan di perekonomian global,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...