PLN Bakal Jadi Pembeli Utama Proyek Waste to Energy Danantara
PT Danantara Investment Management menggandeng PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (PSEL). PLN akan menjadi pembeli utama energi listrik yang dihasilkan dalam teknologi berbasis insinerator tersebut.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan, proyek ini dianggap efektif untuk mengatasi masalah darurat sampah yang melanda Indonesia sekaligus menghasilkan listrik terbarukan.
Dia menjelaskan, sampah-sampah rumah tangga nantinya akan dihimpun oleh pemerintah daerah atau pemda untuk disalurkan ke tempat pembuangan akhir atau TPA khusus. Setelah itu, menurrut dia, fasilitas insinetor akan membakar sampah dengan kapasotas minimal 1.000 ton per hari. Proses pembakaran ini kemudian menghasilkan energi panas yang dikonversi menjadi tenaga listrik.
Tenaga listrik itu kemudian akan dibeli oleh PT PLN yang berada di bawah holding Danantara untuk menyalurkan listrik ke rumah-rumah masyarakat. Menurut dia, teknologi ini telah digunakan oleh sejumlah negara negara jiran, salah satunya Singapura.
“Kalau kita lihat itu negara-negara tetangga kita, seperti Singapura, itu justru mereka memiliki 5 insinerator,” kata Yuliot usai Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Nasional Menjadi Energi di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (30/9).
Yuliot mengatakan, 1.000 ton sampah dapat menghasilkan listrik sekitar 20 megawatt (MW). Ini cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 20 ribu rumah tangga. Jika kapasitas pengolahan sampah lebih besar, listrik yang dihasilkan bisa mencapai 30 MW atau lebih, tergantung kelipatan teknologi yang digunakan.
Ia juga menekankan, nilai tambah lain dari proyek PLSE, yakni pemerintah daerah tidak lagi dibebani biaya tipping fee untuk membayar pengelola TPA. Seluruh pembiayaan proyek ditanggung oleh Danantara bersama PLN sebagai pembeli listrik hasil PSEL. Dengan demikian, APBD daerah bisa dihemat, sedangkan masalah sampah tetap teratasi.
Selain menghasilkan energi terbarukan, proyek ini juga diproyeksikan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% dan menekan kebutuhan lahan TPA hingga 90%.
Managing Director Investment Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, proyek PSEL merupakan kolaborasi antara Danantara, pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Melalui proyek tersebut, sampah akan diolah menjadi energi terbarukan berupa listrik yang akan dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
“Salah satu peran Danantara adalah memilih mitra dan teknologi yang tepat, lalu berinvestasi bersama-sama membangun PSEL ini,” kata Stefanus usai Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Nasional Menjadi Energi di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (30/9).
Stefanus menyebut, dalam beberapa bulan terakhir pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan, termasuk benchmarking terhadap teknologi di berbagai negara.
Adapun Danantara telah mengidentifikasi 33 titik di berbagai wilayah di Indonesia yang akan digunakan sebagai tempat pembangunan PSEL. Adapun investasi untuk setiap titik lokasi mencapai Rp 2–3 triliun, termasuk untuk infrastruktur pendukung.
Dia menyampaikan, pembiayaan proyek PSEL ini tidak hanya bersumber dari Danantara saja. Nantinya, holding perusahaan milik negara ini akan menggelar tender secara terbuka, baik dari swasta, pihak asing, pemerintah maupun BUMD untuk memilih mitra untuk proyek tersebut. Pemilihan mitra akan dilakukan setelah lokasi pembangunan PSEL rampung dan siap dijalankan.
“Pada akhirnya, kami akan melakukan pemilihan, mana teknologi atau partner yang paling tepat dan paling optimal. Karena tujuannya adalah bukan sekedar mencari untung, tapi yang lebih penting adalah tadi, melakukan pembersihan lingkungan, mengurangi masalah darurat sampah,” ujarnya.
