Menaker Siapkan Pelatihan Green Skills untuk 1,1 Juta Orang per Tahun
Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen mengadakan peningkatan keterampilan dan pelatihan keterampilan baru untuk keterampilan hijau atau green skills. Pelatihan menargetkan 1,1 juta orang setiap tahunnya hingga 2029.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menjelaskan, pekerjaan hijau atau green jobs juga diintegrasikan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan pusat pelatihan berbasis masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk menyediakan keterampilan hijau hingga tingkat akar rumput.
“Saya yakin langkah-langkah ini akan menyelaraskan kebijakan kami dengan pasar tenaga kerja di masa depan,” kata Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, dalam Indonesia International Sustainability Forum 2025 di Jakarta, Sabtu (11/10).
Studi Kementerian ESDM menunjukkan, akan terdapat 1.900 pekerjaan baru di sektor energi yang diidentifikasi sebagai pekerjaan hijau. Hingga 2030, jumlah pekerja hijau ditargetkan meningkat hingga mencapai 2,26 juta orang, enam kali lipat lebih tinggi dari jumlah pekerja hijau pada 2022.
Menurut Yassierli, ini bukan hanya peluang lapangan kerja baru, tapi peluang kerja baru yang lebih baik.
Empat Tantangan Bangun Green Jobs
Yassierli menjelaskan, setidaknya ada empat tantangan untuk membangun green jobs dan green skills. Tantangan pertama adalah tidak linearnya kurikulum pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri. Selain itu, tak banyak skema sertifikasi yang relevan, terutama yang fokus pada pekerjaan ramah lingkungan.
Kedua, potensi energi hijau cenderung terpusat di luar Jawa. Namun, sebagian besar pusat pelatihan vokasi dan perguruan tinggi berkualitas mumpuni justru berada di Jawa. Kesenjangan ini kemudian menjadi PR baru bagi pemerintah.
Tantangan ketiga, yakni fasilitas dan infrastruktur pelatihan vokasi sudah memasuki usia uzur. Selain itu, tak banyak instruktur yang berpengalaman langsung di industri hijau. Jadi, sebelum memberi pelatihan pada pekerja, Kemenaker perlu memberi pembinaan kompetensi terlebih dahulu kepada pelatihnya.
Tantangan keempat adalah membangun green jobs dan green skills berkaitan dengan bagaimana isu transisi energi meningkatkan produktivitas dan meningkatkan permintaan green jobs. Akan tetapi, saat ini permintaan terhadap green jobs belum signifikan.
“Kabar baiknya kita telah berkolaborasi dengan Asian Productivity Organization dan diarahkan untuk memimpin spesialis produktivitas hijau,” kata Yassierli.
