PT SMI Buka Peluang Pembiayaan untuk Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi
PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI siap memperluas peran pembiayaan pada sektor Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) untuk mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah mengatakan, pihaknya terus menjajaki berbagai peluang pembiayaan untuk proyek pengelolaan sampah, baik melalui skema langsung maupun kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
“Dari sisi PSEL, PT SMI cukup aktif melihat berbagai opportunity untuk membiayai pengelolaan sampah, baik dari sisi proyek itu sendiri maupun proyek-proyek yang akan masuk dalam skema KPBU,” kata Reynaldi di konferensi pers, Senin (10/11).
Ia menjelaskan, pembiayaan proyek pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus PT SMI melalui peran perusahaan sebagai pelaksana Project Development Facility (PDF). Fasilitas ini berfungsi membantu pemerintah menyiapkan proyek infrastruktur agar layak secara teknis, finansial, dan lingkungan sebelum ditawarkan ke investor.
Reynaldi mencontohkan, salah satu proyek yang telah dibiayai PT SMI adalah fasilitas pengelolaan sampah di Benowo, Surabaya, yang menggunakan teknologi pirolisis. Teknologi ini mengubah sampah menjadi marine fuel, bahan bakar ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk sektor perkapalan.
“Yang menarik dari proyek di Benowo ini, output-nya bukan tenaga listrik atau RDF, tapi marine fuel yang bisa mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, khususnya untuk kebutuhan maritim,” jelasnya.
Setiap Proyek PSEL Butuh Investasi hingga Rp 3,2 Triliun
Sebagai informasi, sebelumnya Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menyatakan setiap proyek PSEL membutuhkan investasi berkisar antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 3,2 triliun.
Adapun kapasitas pengolahan PSEL mencapai sekitar 1.000 ton per hari. Pandu memperkirakan, proyek ini akan menyerap 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung selama masa konstruksi.
Sekitar 400 hingga 500 pekerja akan terlibat langsung di lokasi pembangunan, sisanya berasal dari sektor pendukung seperti penyedia bahan bangunan dan jasa terkait lainnya.
Ia juga menyebut pembiayaan proyek waste-to-energy (WtE) akan menggunakan skema ekuitas menggunakan dana yang diperoleh dari Patriot Bond. Danantara akan membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WTE untuk mendanai proyek tersebut.
