Proyek Hidrogen Hijau Terbesar RI Diklaim On Track, Sejauh Apa Perkembangannya?
PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan progres proyek pembangunan fasilitas produksi amonia hijau terbesar di Indonesia atau yang dikenal dengan Garuda Hidrogen Hijau masih sesuai rencana. BUMN di bidang pupuk ini membangun fasilitas tersebut bersama perusahaan energi asal Arab Saudi ACWA Power dan BUMN setrum PT PLN (Persero).
Proyek yang berlokasi di Aceh ini digadang-gadang menjadi proyek amonia hijau pertama di dunia yang dikembangkan secara terintegrasi lintas negara. Proyek ini dirancang menggunakan energi terbarukan dari pembangkit listrik tenaga surya dan angin berkapasitas hingga 600 megawatt (MW), dengan potensi produksi 150.000 ton amonia hijau per tahun. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp16,77 triliun.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad menjelaskan, proyek tersebut tengah dalam tahap perencanaan teknis dan pengembangan. Dan, proyek ini melibatkan juga mitra dari Jepang. "Ini pertama kali di dunia. Kami bersama dengan perusahaan-perusahaan di Jepang dan kami sendiri. Dan sekarang sudah sampai pada tahap engineering dan masih on track,” ujar Rahmad.
Rahmad meluruskan informasi yang menyebut proyek tersebut akan beroperasi penuh pada 2026. Menurut dia, proses pengembangan teknologi hidrogen hijau memerlukan waktu panjang karena teknologinya masih tergolong baru secara global.
Kemungkinannya, fasilitas baru siap beroperasi sekitar empat sampai lima tahun lagi. “Mungkin dimulainya betul tahun ini, tapi untuk operasi green hydrogen kami targetkan sekitar 2030,” kata dia.
Pada tahap awal, target kapasitas produksi masih relatif kecil yaitu sekitar 100 ton per hari. “(Tapi) jangan dilihat dari besar kecilnya, dari inovasinya. Karena tidak ada di dunia ini yang melakukan seperti yang kami lakukan,” ujarnya.
