Menteri LH Peringatkan Bahaya Alih Fungsi Dataran Tinggi Jadi Perkebunan Sayur

Ajeng Dwita Ayuningtyas
3 Februari 2026, 13:38
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana longsor di Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (28/1/2026).
ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana longsor di Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (28/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti maraknya perkebunan sayur di dataran tinggi. Menurut dia, aktivitas ini telah meningkatkan risiko bencana.

Dia menengok pengalaman bencana di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat pada Januari lalu. Dataran tinggi yang seharusnya dipenuhi pohon telah berganti dipenuhi tanaman sayur-mayur sub-tropis seperti kubis, kol, kentang, dan paprika. 

Di daerah asalnya, tanaman tersebut tidak butuh dataran tinggi untuk tumbuh, karena suhu wilayahnya dingin. Di Indonesia, tanaman ini dipaksakan untuk dibudidaya sehingga memakan hutan-hutan di dataran tinggi.  

“Ini tanaman yang hanya hidup dengan baik pada ketinggian 800 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut. Konstruksi ini yang kita harus hati-hati,” kata Hanif, dalam keynote speech di ESG Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2).

Dia menjelaskan, daerah pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut memiliki peran sebagai daerah hulu, yang menjamin kehidupan ekosistem di bawahnya. Jika area tersebut berubah menjadi lahan perkebunan tanaman holtikultura, maka meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Sebelumnya, Hanif sempat meminta agar kawasan dataran tinggi dibiarkan menjadi hutan. Dia pun mendorong masyarakat untuk memikirkan kembali konsumsinya agar tidak membebani lingkungan. Tingginya permintaan akan tanaman-tanaman sub-tropis jadi penyebab meluasnya pertanian ini di dataran-dataran tinggi Indonesia.   

Hanif pun meminta pelaku industri untuk membantu menavigasi pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia. “Implementasi environmental, social, and governance (ESG) harus menjadi momentum menyelaraskan keinginan kita dalam memajukan perusahaan, juga untuk membangun ketahanan iklim,” kata dia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...