Tender Waste to Energy Danantara Didominasi Perusahaan Tiongkok, Intip Profilnya
Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) tahap pertama telah memasuki fase tender. Sebanyak 24 perusahaan asal Tiongkok, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hongkong, bersaing untuk memeroleh proyek di empat kota yaitu Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Perusahaan-perusahaan asing yang mengikuti tender wajib membentuk konsorsium dengan mitra lokal. “Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemerintah daerah," kata Lead of Waste-to-Energy Danantara Fadli Rahman melalui keterangan tertulis, Jumat (13/2).
Fadli memastikan proses pemilihan badan usaha pelaksana proyek PSEL ini dilakukan secara transparan dan berbasis mitigasi risiko. "Kami ingin memastikan terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu," ujarnya. Pengumuman hasil tender direncanakan pada Februari ini.
Dari 24 perusahaan peserta tender, terbanyak merupakan perusahaan Tiongkok dan Hongkong. Berikut profil lima di antaranya:
Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd.
Perusahaan ini memiliki rekam jejak panjang sebagai investor, pengembang, sekaligus operator fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah. Berdiri pada 2009 dan berkantor pusat di Chongqing, Sanfeng Environment tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Saham Shanghai dengan kode saham 601827.SH.
Berbeda dengan kontraktor Engineering Procurement Construction (EPC) umum yang memiliki divisi lingkungan, Sanfeng Environment sejak awal menempatkan WtE sebagai inti bisnis.
Sanfeng Environment dikenal sebagai pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman). Teknologi ini kemudian dilokalisasi dan dikembangkan hingga mampu memproduksi sendiri peralatan inti WtE, mulai dari tungku pembakaran, pemurnian gas buang, hingga pengolahan residu.
Hingga akhir 2023, teknologi dan peralatan Sanfeng Environment telah diterapkan di lebih dari 250 proyek WtE dengan lebih dari 400 lini insinerasi di berbagai negara. Total kapasitasnya lebih dari 220.000 ton sampah per hari.
Selain menyediakan teknologi, Sanfeng Environment juga berperan sebagai investor dan operator proyek melalui skema BOT (build, operate, dan transfer) dan skema PPP (Public Private Partnership), dengan lebih dari 50 proyek WtE yang telah beroperasi atau dalam tahap konstruksi.
Wangneng Environment Co., Ltd
Wangneng Environment mulai beroperasi pada 2012 dan berkantor pusat di Huzhou, Zhejiang. Bisnis perusahaan mencakup pemanfaatan limbah dapur, pengolahan air limbah, pengolahan lumpur, hingga daur ulang karet.
Wangneng Environment Co memiliki 98 perusahaan, termasuk lima anak perusahaan luar negeri yang tersebar di Thailand, Kamboja, Australia, dan Singapura.
Dalam bisnis WtE, perusahaan mengubah limbah, terutama limbah padat, menjadi energi (listrik atau panas) melalui berbagai proses, di antaranya pembakaran, gasifikasi, atau bioteknologi.
Beberapa proyek WtE yang pernah dipegang Wangneng Environment melibatkan instalasi pabrik pengolahan limbah. Perusahaan mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih dihasilkan setiap tahun. Dengan pemakaian listrik rata-rata rumah kecil menengah di Indonesia, output ini bisa digunakan untuk lebih dari 2,5 juta rumah per tahun.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd bukan pemain baru di Indonesia. Sebelumnya, anak usahanya, Weiming Equipment, menandatangani kontrak penyediaan peralatan insenerator WtE dengan perusahaan Indonesia Shanghai Dingxin Investment/Qingshan Park. Ini adalah kolaborasi di bidang ekspor teknologi lingkungan.
Selama ini, Weiming Environment dikenal sebagai pemain utama dalam teknologi dan operasi WtE di Tiongkok. Bisnis WtE mereka mencakup desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE; manufaktur dan pemasangan peralatan insenerator dan tenaga WtE; serta pengolahan sampah padat perkotaan dengan pembangkit listrik dari limbah.
Pada 2023, Weiming Environment menghasilkan total listrik sekitar 3,85 miliar kWh listrik dari operasi mereka, terutama dari pembangkit WtE.
Perusahaan ini pernah menawarkan kerja sama investasi sekitar US$225 juta atau sekitar Rp3,78 triliun kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk pengelolaan sampah dan BOO WtE melalui Weiming Environment Protection. Perusahaan juga pernah menjajaki penggunaan teknologi insinerasi di calon Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Cirebon Raya.
SUS Indonesia Holding Limited
Meski bernama SUS Indonesia Holding Limited, kenyataannya ini adalah perusahaan yang terdaftar di Tiongkok. Perusahaan ini merupakan anak usaha dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd. Perusahaan mulai beroperasi pada 2022 dengan fokus bisnis pada WTE dan mengelola investasi jangka panjang.
Alasan perusahaan ini memilih pasar Indonesia adalah volume sampah kota sangat besar, keterbatasan tempat pembuangan akhir, dan kebutuhan energi bersih yang meningkat. Perusahaan induknya, Shanghai SUS Environment Co., Ltd berdiri tahun 2008 di Qingpu District, Shanghai.
Sejauh ini, perusahaan sudah memegang 8.489 proyek WTE di sejumlah negara. Di Makassar, Sulawesi Selatan, perusahaan ini membangun fasilitas WTE lewat perjanjian kerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Volume sampah yang dikelola sebanyak 1.300 ton sampah setiap hari, dengan teknologi insinerasi dan turbin menghasilkan daya listrik 35 MW.
PT Jinjiang Environment Indonesia
Jinjiang Environment Indonesia merupakan bagian dari grup perusahaan lingkungan asal Tiongkok, yakni Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. yang merupakan pemain utama dalam industri WTE di Tiongkok sejak 1998.
Pada 16 Februari 2025, Zheneng Jinjiang menyelesaikan restrukturisasi internal PT Jinjiang Environment Indonesia. Sebelumnya, 90 persen kepemilikan saham perusahaan itu dipegang oleh Lamoon Holdings Limited di British Virgin Islands. Di Indonesia, Jinjiang Environment Indonesia berada di bawah China Jinjiang Environment Holding Co.
Jinjiang Environment Indonesia memiliki fokus bisnis pada pengolahan limbah padat menjadi energi listrik. Perusahaan sudah memiliki proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kapasitas yang dihasilkan sebanyak 1.000 ton sampah per hari dengan output listrik sebesar 20 MW.
Di Palembang, perusahaan ini membangun kolaborasi dengan perusahaan lokal dengan skema Build Own Operate dengan kontrak konsesi 30 tahun. Investasi awal untuk pembangunan PLTsa di Palembang, perusahaan ini mengucurkan dana US$120 juta atau setara dengan Rp1,8 triliun.
Di sisi lain, induknya di Indonesia telah memegang 27 fasilitas WTE di Tiongkok. Mereka juga memiliki tiga fasilitas pengolahan limbah dapur atau organic waste dan delapan fasilitas daur ulang sumber daya limbah dengan total kapasitas pengolahan 44.000 ton limbah per hari.
