2015-2025 Dekade Terpanas Bumi, Perubahan Besar Terjadi di Laut

Ajeng Dwita Ayuningtyas
27 Maret 2026, 18:57
Seorang wisatawan menyelam di bawah laut Sombu Dive, di Kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (7/10/2025). Laut dilaporkan semakin panas, semakin naik, dan semakin asam seiring bumi yang berada di dekade terpanas.
ANTARA FOTO/Jojon/tom.
Seorang wisatawan menyelam di bawah laut Sombu Dive, di Kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (7/10/2025). Laut dilaporkan semakin panas, semakin naik, dan semakin asam seiring bumi yang berada di dekade terpanas.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Manusia bersama makhluk hidup lainnya tengah memanen konsekuensi dari produksi besar-besaran gas rumah kaca. Bumi tidak hanya semakin panas, tapi mengalami ketidakseimbangan energi. Laut pun mengalami perubahan besar, bukan hanya semakin naik, tapi semakin asam.

Situasi ini terungkap dalam laporan terbaru World Meteorological Organization (WMO). Dalam kondisi normal, energi dari matahari yang masuk ke bumi seharusnya seimbang dengan energi yang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun, keseimbangan itu semakin terganggu karena tingginya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Sebagian panas yang terperangkap tidak langsung dirasakan di udara. Sekitar 90 persen diserap oleh lautan, menjadikannya penyimpan panas terbesar di bumi.

Perkembangan di Laut: Semakin Naik dan Semakin Asam

Penyerapan panas yang masif membuat suhu laut terus meningkat. Dalam beberapa dekade terakhir, laju pemanasan laut tercatat semakin cepat, bahkan mencapai rekor tertinggi dalam pengamatan modern.

Dampaknya terlihat di kutub. Lapisan es di Greenland dan Antartika terus kehilangan massa, sedangkan luas es laut Arktik berada di level terendah atau terendah kedua selama era pengamatan satelit.

Pemanasan laut dan pencairan es ini berkontribusi langsung pada kenaikan permukaan laut global. Sejak pengukuran satelit dimulai pada 1993, permukaan laut telah naik sekitar 11 sentimeter.

Di saat yang sama, laut juga menyerap sekitar 29 persen karbon dioksida yang dihasilkan aktivitas manusia. Proses ini membantu menahan laju pemanasan, namun membawa konsekuensi lain, yakni meningkatnya keasaman air laut.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), tingkat keasaman laut saat ini berada pada kondisi yang belum pernah terjadi dalam puluhan ribu tahun. Pengasaman laut ini mengancam ekosistem, keanekaragaman hayati, dan budidaya perikanan.

IPCC memperkirakan, situasi ini akan terus terjadi selama berabad-abad ke depan. Sebab, pemanasan air laut dan tingkat keasaman (pH) laut tidak mudah dipulihkan dalam rentang waktu ratusan atau ribuan tahun . 

2015-2025: Sebelas Tahun Terpanas

Laporan terbaru WMO bertajuk "State of the Global Climate 2025" mengungkapkan 2015-2025 sebagai 11 tahun terpanas yang pernah tercatat. Tahun 2024 masih menjadi tahun terpanas dengan suhu rata-rata global 1,55 derajat celsius di atas rata-rata 1850-1900. Sedangkan, tahun 2025 menjadi tahun terhangat kedua atau ketiga (tergantung kumpulan data yang digunakan), dengan suhu rata-rata global 1,43 derajat celsius di atas rata-rata 1850-1900. 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak semua pihak untuk melakukan aksi nyata untuk mengendalikan situasi. “Umat manusia baru saja melewati sebelas tahun terpanas dalam sejarah. Ketika sejarah terulang sebelas kali, itu bukan lagi kebetulan, itu adalah seruan untuk bertindak,” kata dia dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/3).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...