Hujan Masih Turun, El Nino Batal Datang?

Martha Ruth Thertina
13 April 2026, 18:32
Warga menerobos banjir di Jalan Aria Putra, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (4/4/2026).
ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/YU
Warga menerobos banjir di Jalan Aria Putra, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (4/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah fenomena El Nino yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk kondisi lebih kering di Indonesia -- benar-benar akan datang tahun ini. Pasalnya, curah hujan masih tinggi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, lembaga-lembaga iklim global dan regional menunjukkan bahwa kondisi tersebut justru bagian dari fase transisi. Kondisi hujan yang masih terjadi saat ini tidak bertentangan dengan prediksi El Nino, melainkan mencerminkan fase peralihan dari La Nina (kondisi basah) menuju kondisi netral, sebelum beralih ke El Nino (kondisi kering).

Badan iklim Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dalam rilis terbarunya pada 9 April menyatakan bahwa saat ini kondisi ENSO berada pada fase netral dengan kemungkinan besar -- probabilitas 80 persen -- masih berlangsung pada April-Juni.

ENSO merupakan singkatan dari El Nino Southern Oscillation, siklus iklim yang terdiri dari tiga fase: El Nino, La Nina, dan netral. Fase netral adalah kondisi dimana siklus belum masuk ke El Nino maupun La Nina.

El Nino berpeluang cukup besar terbentuk setelah April. “Pada periode Mei-Juli 2026, El Niño diperkirakan mulai berkembang dengan probabilitas 61 persen dan berpotensi bertahan setidaknya hingga akhir 2026,” demikian tertulis dalam rilis tersebut.

Prediksi serupa disampaikan oleh ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC). Dalam rilis terbarunya yang dipublikasi 7 April lalu, kawasan Asia Tenggara disebut tengah berada dalam periode inter-monsoon, yakni masa peralihan antar musim yang ditandai dengan angin lemah dan arah yang berubah-ubah.

Pada periode ini, hujan masih dapat terjadi, terutama di wilayah selatan ASEAN termasuk Indonesia, meski diselingi periode yang lebih kering.

La Nina yang sebelumnya memengaruhi pola cuaca di kawasan ini disebut terus melemah dan beralih menjadi kondisi netral pada Maret-April 2026. Selanjutnya, kondisi netral diperkirakan berlanjut pada Mei, sebelum kemungkinan berkembang menjadi El Nino pada Juni-Juli.

Seiring prediksi tersebut, ASMC memperingatkan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan serta bencana asap. ASMC mencatat, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah selatan ASEAN pada tiga bulan pertama 2026 sudah lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dengan curah hujan yang diperkirakan berada di bawah normal di sebagian besar wilayah selatan ASEAN pada periode April-Juni, hotspot dan kepulan asap berpotensi terus berkembang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kabut asap, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal,” demikian tertulis.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...