Mengapa Ikan Sapu-Sapu Dibasmi di Sungai Jakarta? Ini Ancamannya bagi Ekosistem
Pemerintah Provinsi Jakarta tengah menggalakkan penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai titik aliran sungai di Jakarta. Aksi ini dipicu ledakan populasi ikan sapu-sapu yang disebut-sebut mengancam ekosistem sungai.
Mengutip keterangan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, penangkapan ini adalah solusi cara jangka pendek untuk mengurangi keberadaan spesies asing di perairan Jakarta.
“Seluruh hasil tangkapan akan langsung dimatikan dan dikubur secara higienis, tidak diperjualbelikan maupun dikonsumsi,” demikian dikutip dari unggah Instagram DKPKP DKI Jakarta, pada Jumat (17/4).
Ke depan, Pemprov akan melakukan pengendalian rutin, memperbaiki kualitas air, serta edukasi berkelanjutan. Ikan sapu-sapu dari hasil penangkapan ke depan akan coba dimanfaatkan sebagai kompos atau pakan ternak.
“Dinas KPKP DKI juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta lembaga penelitian dalam upaya pengendalian baik secara biologi, kimia, maupun manual,” demikian tertulis.
Namun, sebetulnya mengapa ikan sapu-sapu harus dibasmi dari aliran sungai di Jakarta?
Ikan Tangguh dari Amazon, Berisiko Musnahkan Ikan Lokal
Ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus berasal dari kawasan tropis Amerika Selatan, khususnya daerah aliran Sungai Amazon. Pakar Ikan dan Konservasi Ikan IPB University Charles Simanjuntak mengatakan, predator alami ikan ini adalah ikan Common Snook, ikan Tarpon, buaya, dan burung neotropic cormorant.
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ucap Charles, dikutip dari laman resmi IPB University.
Dalam buku ‘Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia’, ikan dikategorikan invasif apabila ikan introduksi atau yang hidup di luar habitat alaminya berdampak negatif bagi komunitas di perairan. Ikan invasif memiliki kemampuan adaptasi tinggi serta kemampuan berkembang dan bereproduksi secara cepat.
Charles menjelaskan, ikan sapu-sapu bisa mulai berkembangbiak sejak berukuran kecil (23,9-28,9 cm untuk jantan dan 13-25,9 untuk betina). Ikan sapu-sapu betina berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
Dalam satu siklus, seekor ikan sapu-sapu betina dapat menghasilkan hingga 19.000 telur. Persentase kelangsungan hidup ikan sapu-sapu mencapai 90 persen, karena proteksi tinggi induk jantan terhadap telur ikan.
Ikan ini dapat menelan berbagai jenis makanan, termasuk plankton, sumber makanan ikan lainnya. Selain itu, ikan ini dapat menyebarkan parasit dan patogen yang membahayakan ikan di habitat asli.
Ini yang menyebabkan populasi ikan sapu-sapu bisa mengalahkan populasi ikan lokal atau ikan asli bahkan memusnahkannya. Padahal, ikan asli punya banyak peran penting.
Ikan asli telah membentuk jaring-jaring kehidupan yang apabila diputus dapat menimbulkan ketidakseimbangan alam. Ikan asli adalah sumber pangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan menyatu dengan budaya lokal.
Ikan asli juga menjadi sumber plasma nutfah atau sumber daya genetik yang bermanfaat untuk penelitian di masa depan. Misalnya, untuk ‘mengembangkan’ ikan asli yang lebih kuat beradaptasi dengan lingkungannya.
Ikan Sapu-Sapu Bahaya Dikonsumsi
Ikan sapu-sapu mampu hidup di kondisi perairan sangat ekstrem, seperti perairan dengan kadar oksigen rendah, tercemar berbagai limbah organik dan anorganik, serta mengandung logam berat. Maka itu, ikan ini sebaiknya tidak untuk dikonsumsi.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok juga mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel ikan sapu-sapu dan air di Sungai Ciliwung. Hasilnya, ikan tersebut mengandung bakteri salmonella dan e. Coli serta residu logam berat.
“Ikan ini sangat berbahaya karena memakan semua racun yang ada di kali. Saya mengimbau kepada warga untuk tidak mengonsumsinya,” ujar dia.
