BRIN Temukan Daya Serap Tanah Menurun, Alarm bagi Ketahanan Air Nasional

Martha Ruth Thertina
24 April 2026, 15:38
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk menyelesaikan proyek pembangunan sebuah permukiman di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/10/2024). Riset BRIN di Kawasan Bandung Utara menemukan sebanyak 98 mata air mengalami tren penurunan debit sei
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk menyelesaikan proyek pembangunan sebuah permukiman di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/10/2024). Riset BRIN di Kawasan Bandung Utara menemukan sebanyak 98 mata air mengalami tren penurunan debit seiring masifnya alih fungsi lahan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan penurunan kemampuan tanah menyerap air semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini berpotensi mengancam ketahanan air nasional.

Berdasarkan hasil riset terbaru BRIN di Kawasan Bandung Utara, sebanyak 98 mata air mengalami tren penurunan debit. Peneliti BRIN Ananta Purwoarminta mengungkapkan, beberapa mata air yang telah dimanfaatkan sejak 1921, seperti Mata Air Ciwangun dan Mata Air Cibadak, tercatat terus mengalami penurunan kapasitas.

Menurut dia, kondisi tersebut dipicu oleh alih fungsi lahan secara masif di zona tangkapan air (recharge area). Perubahan tutupan lahan mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga berdampak langsung pada ketersediaan air tanah di wilayah Cekungan Bandung.

“Karakteristik hidrogeologi vulkanik di Bandung Utara sangat unik dimana air hujan meresap melalui batuan permeabel pada ketinggian 1.200 hingga 1.700 mdpl. Namun efektivitas resapan terganggu akibat hilangnya area resapan alami,” kata Ananta, dikutip dari siaran pers BRIN (24/4).

Riset BRIN memanfaatkan teknologi isotop lingkungan dan hidrogeokimia untuk menelusuri asal-usul serta aliran air tanah. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar penetapan zona lindung yang harus terbebas dari pembangunan fisik.

“Temuan ini menjadi acuan krusial bagi pemerintah dalam menentukan kawasan yang wajib dilindungi demi menjaga keberlanjutan sumber daya air,” ujar Ananta.

Selain mendorong penetapan zona lindung, BRIN merekomendasikan pembangunan sumur resapan, biopori, dan parit imbuhan guna mengarahkan air hujan masuk ke dalam akuifer. Upaya tersebut diharapkan mampu mengompensasi berkurangnya area resapan alami sekaligus menjaga keseimbangan neraca air tanah secara berkelanjutan.

Sebagai catatan, studi lainnya misalnya di Jakarta, Semarang, Demak menunjukkan wilayah-wilayah ini juga menghadapi masalah yang tak jauh beda yaitu eksploitasi air tanah yang tinggi dan kawasan resapan yang menyusut. Kondisi ini tidak hanya menurunkan ketersediaan air, tapi meningkatkan risiko amblesan tanah serta risiko longsor dan banjir.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...