Bos PepsiCo Bicara Target Bebas Deforestasi hingga Tumpang Sari Sawit di Kutai

Ajeng Dwita Ayuningtyas
24 April 2026, 18:08
Ilustrasi minuman Pepsi yang diedarkan di pasar Indonesia.
TWITTER @ID_Pepsi
Ilustrasi minuman Pepsi yang diedarkan di pasar Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan makanan dan minuman multinasional PepsiCo menyatakan tetap pada komitmennya agar rantai pasoknya -- khususnya untuk komoditas-komoditas berisiko tinggi -- bebas dari deforestasi dan konversi lahan natural pada 2030. Dikenal sebagai produsen minuman bersoda Pepsi, Pepsico juga adalah produsen beragam produk camilan populer seperti Lays, Doritos, atau Cheetos. 

“Kami memiliki target yang jelas untuk 2030, dan kami bekerja sama dengan berbagai organisasi, khususnya pemasok tingkat pertama (tier one suppliers), agar mereka juga bekerja dengan para pemasok mereka untuk memastikan tidak terjadi deforestasi dalam rantai pasok kami," kata Chief Sustainability Officer PepsiCo Global Jim Andrew dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4). 

Menurut Jim, perusahaan juga terus berupaya untuk memastikan bahan bakunya bersumber dari lahan yang menerapkan pertanian regeneratif -- praktek pertanian yang mendukung pemulihan dan peningkatan kesehatan ekosistem.

Dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini, Jim bercerita bahwa dirinya sempat berkunjung ke perkebunan sawit dalam rantai pasok PepsiCo di Kutai, Kalimantan Timur. Perkebunan itu disebutnya sebagai contoh pertanian regeneratif yang berdampak positif pada ekonomi petani. 

“(Perkebunan ini) menunjukkan bagaimana organisasi yang bekerja sama dengan kami membantu petani menerapkan tumpang sari kakao dengan kelapa sawit, sehingga mereka memiliki sumber pendapatan tambahan dari kakao,” ujarnya.

Jim mengatakan ada sekitar 300 ribu petani yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam rantai pasok PepsiCo. Perusahaan memiliki keterbatasan untuk memantau seluruhnya. Karena itu, perusahaan bekerja sama dengan mitra-mitra lokal untuk pendampingan petani.

Selain soal pertanian regeneratif, Jim bercerita soal program restorasi lahan, salah satunya di Kecamatan Telunggun, Aceh. Meski berada di kawasan yang terdampak banjir dan longsor di Sumatra pada akhir tahun lalu, wilayah ini disebut tidak mengalami dampak signifikan.

Menurut Jim, kawasan yang telah direstorasi memiliki kondisi tanah yang lebih sehat dan pengelolaan air yang lebih baik, sehingga lebih tangguh menghadapi risiko bencana. “Kami bersyukur mengetahui area tersebut, apa pun alasannya, terdampak lebih sedikit dibanding area lainnya,” kata dia.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...