Pembangunan Nasional Dibayangi Risiko Iklim, Intip Peran Riset untuk Kebijakan
Forum kemitraan Australia-Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi atau KONEKSI, menilai peran penting penelitian kolaboratif, interdisipliner, serta lintas sektor dan lintas negara untuk merumuskan kebijakan konkret di tengah risiko perubahan iklim dan target pertumbuhan ekonomi ambisius.
Dalam diskusi interaktif bertajuk ‘From Research to Policy Delivery: Accelerating Impact for Indonesia’s Development Priorities’, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, kolaborasi seluruh pihak termasuk peneliti di lapangan berperan penting dalam proses pengambilan keputusan dan praktik. Alasannya, hasil penelitian akan dijadikan bukti, dasar, atau sumber informasi dalam pengambilan keputusan dan praktik tersebut.
“Di Bappenas ada dua sisi, proses perencanaan sendiri menggunakan evidence based,” kata Pungkas, dalam rangkaian acara Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit tersebut, Rabu (29/4).
Pungkas menjelaskan, dalam proses perencanaan terdapat rancangan teknokratik, politik, bottom-up, dan top-down. Teknokratik ini selalu diawali dengan background penelitian sebagai basis ilmiah.
Sementara sisi lainnya, yaitu dalam rencana pembangunan jangka panjang dan menengah, pemerintah menyiapkan satu klaster nasional untuk penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pendorong ekonomi.
“Dari awal, kami yakin bahwa riset mempunyai peran kuat sehingga menjadi satu dari delapan prioritas nasional,” ujar Pungkas.
Sementara itu, menurut studi Australian Council of Learned Academies (ACOLA), banyak tantangan kebijakan dan pembangunan yang tidak bisa ditangani oleh satu disiplin ilmu dan satu sektor. Penelitian interdisipliner yang menyatukan beragam perspektif, lintas bidang, lembaga, dan komunitas, justru mampu merancang kebijakan adaptif serta efektif khususnya untuk kelompok rentan.
“Penelitian interdisipliner penting, bukan karena menggabungkan keahlian, tetapi karena menghasilkan pengetahuan yang lebih relevan, lebih dapat digunakan, dan lebih mungkin memengaruhi keputusan yang penting,” ujar CEO ACOLA, Prerana Mehta.
Kolaborasi Pendidikan dan Penelitian Indonesia-Australia
Minister Counsellor for Human Development and Humanitarian Australian Embassy Jakarta Tim Stapleton mengatakan, kemitraan penelitian kolaboratif antara Indonesia-Australia memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan inklusif dan berkelanjutan.
Dia juga meyakini bahwa Australia adalah salah satu rekan terpopuler untuk penelitian di Indonesia.
Sementara dari segi pendidikan, jumlah pelajar Indonesia yang belajar di Australia telah mencapai lebih dari 25.000 orang. “Selain itu kami memiliki lebih dari 13.500 pelajar Australia yang datang ke sini untuk pengalaman belajar dan bekerja. Di peringkat itu kami memiliki pendirian yang sangat kuat,” kata Stapleton.
