Lindungi Pantura, BRIN Siapkan Lima Teknologi untuk Dukung Giant Sea Wall
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi potensial untuk melindungi Pesisir Utara Jawa (Pantura) dari ancaman banjir rob. Kepala BRIN Arif Satria memaparkan teknologi tersebut dalam Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu, pada Senin (4/5) lalu.
Teknologi-teknologi ini bisa menjadi pendukung maupun pelengkap proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall. Teknologi pertama, tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton yang berfungsi sebagai pelindung pantai, namun bisa sekaligus menjadi penangkap energi gelombang dan jalur transportasi.
Kemudian, unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis. Unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah, teranyar diterapkan di Nusa Penida pada 2025, setelah sebelumnya digunakan di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
“Ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana,” ujarnya, dikutip dari situs BRIN, Rabu (6/5).
Teknologi lainnya yaitu platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit listrik mandiri. “Kita membangun tanggul sekaligus pada saat yang sama kita memanen energi arus,” ucapnya.
Selain itu, BRIN mengusulkan pendekatan hybrid eco-engineering untuk melindung Pantura. Artinya, kombinasi rekayasa teknis dan solusi berbasis alam. “Kombinasi ini bisa mereduksi gelombang, menangkap sedimen, dan pemulihan mangrove,” ujarnya.
Arif mejelaskan, teknologi yang dikembangkan BRIN siap diterapkan dan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. “Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya lebih dari 70 persen,” ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penyusunan segera rencana induk (master plan) perlindungan Pantai Utara atau Pantura Jawa. Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengatakan telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti kementerian/lembaga terkait, universitas, dan para tenaga ahli untuk penyusunan rencana induk tersebut.
BOPPJ telah menandatangani MoU dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisainstek) serta BRIN untuk bersinergi dalam mendukung pengelolaan Pantura.
Didit menjelaskan, penanganan Pantura akan menggunakan teknologi dari dalam maupun luar negeri. “Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kami bicarakan lebih dari enam bulan, bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” kata dia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan Pantura. Ini mencakup pembangunan infrastruktur yang adaptif, tanggul laut raksasa atau giant sea wall, hingga langkah mitigasi berbasis lingkungan.
AHY menjelaskan bahwa kawasan Pantura Jawa berperan signifikan terhadap perekonomian nasional, yakni menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Wilayah ini merupakan rumah bagi 55 juta penduduk dimana 26 persennya tinggal di pesisir.
"Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua," ucapnya.
