BMKG Laporkan Tanda El Nino Menguat, Bisa Bertahan Hingga Awal 2027

Ajeng Dwita Ayuningtyas
11 Juni 2026, 11:26
Situasi kemarau 2023 imbas El Nino: warga membawa air saat distribusi air bersih oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Desa Jambaran, Sumbermalang, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (5/11/2023).
ANTARA FOTO/Seno/YU
Situasi kemarau 2023 imbas El Nino: warga membawa air saat distribusi air bersih oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Desa Jambaran, Sumbermalang, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (5/11/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi terbaru tentang peluang El Nino tahun ini. Sebelumnya, BMKG sempat memprediksi El Nino level lemah hingga moderat tahun ini, namun kini direvisi menjadi moderat hingga kuat. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, saat ini suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batasan netral selama lima dasarian (April II-Mei III) dengan nilai 1,0°C. 

Ini pertanda bahwa suhu di Samudra Pasifik memasuki fase El Nino moderat. Sebagai informasi, suhu permukaan laut 2,0°C atau lebih menandakan El Nino sangat kuat; suhu 1,5-1,9°C tanda El Nino kuat; suhu 1,0-1,4°C El Nino moderat; serta suhu 0,5-0,9°C untuk El Nino lemah. 

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan bertahan hingga awal tahun 2027,” kata Ardhasena, dalam konferensi pers pada Rabu (10/6). Peluang El Nino kategori moderat sebesar 98 persen, sedangkan El Nino kategori kuat sebesar 62 persen. 

Sedangkan di Samudra Hindia, terdapat kemungkinan terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada Juli hingga November 2026. Saat ini, suhu permukaan di Samudra Hindia masih menunjukan indeks IOD -0,56°C. 

Ketika fenomena El Nino dipadukan dengan IOD+, maka akan memicu musim kemarau yang kering dan berkepanjangan. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus-September mendatang.

Sebagian wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Wilayah itu mencakup sebagian Sumatra, Jawa, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua.

Sedangkan hampir separuh luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normal.

Untuk menghadapi musim kemarau dan El Nino, Ardhasena mengimbau agar pihak berwenang segera menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Sebab saat hujan tidak turun, tidak ada mekanisme alam yang membantu pembersihan udara. 

Dia juga mengimbau peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, antisipasi untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat, di antaranya dengan revitalisasi waduk atau perbaikan jaringan distribusi air. 

Sebagian Sumatra Diprediksi Mulai Musim Hujan pada Oktober

Meskipun El Nino kemungkinan bertahan hingga Januari 2027, BMKG memprediksi beberapa wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober.

Wilayah yang dimaksud antara lain sebagian besar Pulau Sumatra. Namun, imbas El Nino, curah hujan diprediksi belum tinggi pada akhir Oktober.

“(Meski curah hujan belum tinggi) tapi masih cukup banyak, jadi tidak begitu mengganggu aktivitas-aktivitas yang membutuhkan curah hujan banyak seperti pertanian,” kata Ardhasena.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...