Bisakah Ikan Gabus Menyelamatkan Gambut? Ini Cerita dari Sintang

Ajeng Dwita Ayuningtyas
26 Juni 2026, 18:58
Fasilitas produksi PT Semesta Sintang Lestari (SSL), produsen produk berbasis ikan gabus di Sintang, Kalimantan Barat.
Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata
Fasilitas produksi PT Semesta Sintang Lestari (SSL), produsen produk berbasis ikan gabus di Sintang, Kalimantan Barat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di Sintang, Kalimantan Barat, budidaya ikan gabus tengah dibidik menjadi cara baru merawat lahan gambut.

Gagasannya sederhana: ketika masyarakat membudidayakan ikan gabus di rawa gambut, kawasan tersebut akan dijaga tetap tergenang air agar ikan dapat hidup. Gambut yang terus basah lebih tahan terhadap kekeringan dan jauh lebih kecil risikonya terbakar saat musim kemarau.

Harapan itu tumbuh seiring berkembangnya industri pengolahan ikan gabus di Sintang. Salah satunya PT Semesta Sintang Lestari (SSL), yang mengolah ikan gabus menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari kapsul albumin hingga biskuit tinggi protein. 

Head of Finance and Production PT SSL Elfira Wahdalia mengatakan meningkatnya permintaan ikan gabus diharapkan mendorong lebih banyak masyarakat membudidayakan ikan tersebut. 

"Harapannya, banyak yang berbudidaya ikan gabus. Petani bisa memanfaatkan rawa gambut mereka, sehingga gambutnya tetap basah," kata Elfira saat ditemui Katadata, Kamis (25/6).  

Produk berbasis ikan gabus produksi PT Semesta Sintang Lestari
Produk berbasis ikan gabus produksi PT Semesta Sintang Lestari (Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata)

Kabupaten Sintang memiliki wilayah sekitar 2,16 juta hektare, menjadikannya kabupaten terluas ketiga di Kalimantan Barat. Wilayah ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas yang memiliki jaringan sungai, danau, dan rawa sebagai habitat berbagai ikan air tawar, termasuk ikan gabus.

Menjaga lahan gambut tetap basah menjadi penting karena ekosistem ini mudah terbakar bila dikeringkan untuk perkebunan atau aktivitas lain. Saat terbakar, api di lahan gambut sulit dipadamkan dan dapat memicu bencana besar bagi masyarakat. Kebakaran gambut juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga memperparah perubahan iklim.

Bencana kebakaran hutan dan lahan pada 2015 menjadi pengingat besarnya risiko tersebut. Saat itu, kebakaran yang melanda Sumatra dan Kalimantan memicu kabut asap lintas negara. Di Kalimantan Barat saja, sekitar 178 ribu hektare hutan dan lahan hangus terbakar.

Budidaya ikan di rawa gambut diharapkan berkembang menjadi sumber penghidupan yang lebih ramah lingkungan. Dengan begitu, masyarakat memiliki alternatif selain aktivitas yang selama ini banyak menekan ekosistem, seperti pertambangan tanpa izin (PETI) maupun pembukaan lahan untuk perkebunan monokultur.

Perkebunan Sawit, Sintang, Kalimantan Barat
Perkebunan Sawit, Sintang, Kalimantan Barat (Google Earth)

Saat ini, perekonomian Sintang masih bertumpu pada sektor perkebunan, terutama sawit dan karet. Kabupaten ini menjadi rumah bagi sekitar 40 perusahaan sawit. Di sisi lain, pertambangan emas tanpa izin juga masih marak dan turut menurunkan kualitas habitat ikan di sungai maupun rawa.

Jika masyarakat memeroleh nilai ekonomi dari budidaya ikan, tekanan terhadap lingkungan diharapkan ikut berkurang. Meski demikian, upaya melindungi habitat alami ikan tetap tidak bisa ditinggalkan.

Menjaga Habitat Ikan Liar

Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Pertama di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sintang Muhammad Iqbal mengatakan, budidaya ikan dengan keramba di rawa gambut memang dapat membantu dalam mempertahankan ekosistem tersebut, terutama pada kawasan gambut yang dalam. 

"Bisa, kalau rawanya dalam," ujarnya.

Namun, isunya adalah bagaimana menyetarakan kualitas ikan budidaya dengan ikan liar. Sebagai ikan predator, gabus memeroleh protein dari memangsa ikan-ikan kecil di alam. 

"Belum tentu protein yang dihasilkan gabus budidaya sama dengan yang liar," katanya.

Karena itu, menjaga habitat ikan di alam tetap menjadi pekerjaan penting. Pemerintah Kabupaten Sintang mempertahankan sejumlah danau sebagai kawasan lindung, tempat ikan berkembang biak sebelum kembali ke sungai saat permukaan air surut.

"Jadi tempat ini harus ada. Kalau tidak kita lindungi, ke mana lagi ikan lari?" kata Iqbal.

Menurut dia, danau-danau lindung menjadi semacam lumbung ikan bagi perairan tawar Sintang, terutama ketika sungai tertekan oleh pencemaran, termasuk limbah dari aktivitas pertambangan emas.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...