BMKG: Puncak Kemarau Juli-September, 80% Wilayah Diprediksi Kekurangan Hujan

Ajeng Dwita Ayuningtyas
5 Juli 2026, 12:57
Petani mengairi sawah menggunakan air tanah yang dipompa menggunakan mesin diesel di areal persawahan Desa Gempolan, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (26/6/2026). Pemanfaatan air tanah untuk irigasi dilakukan guna menjaga ketersediaan air bagi tanaman di mu
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/foc.
Petani mengairi sawah menggunakan air tanah yang dipompa menggunakan mesin diesel di areal persawahan Desa Gempolan, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (26/6/2026). Pemanfaatan air tanah untuk irigasi dilakukan guna menjaga ketersediaan air bagi tanaman di musim kemarau.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi sebagian besar wilayah Indonesia tengah bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang diperparah oleh fenomena iklim El Nino. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko kekeringan sekaligus mengancam ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan pemantauan iklim terbaru, El Nino diperkirakan terus menguat dan berpotensi mencapai kategori kuat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan penguatan El Nino akan memangkas curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Akibatnya, musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Menghadapi situasi tersebut, Ardhasena mengimbau pelaku sektor pertanian segera melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko gagal panen akibat berkurangnya ketersediaan air.

"Beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan, antara lain menyesuaikan jadwal tanam, mengoptimalkan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering dan berumur genjah, serta melakukan diversifikasi tanaman pangan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/7).

Dia juga meminta masyarakat di berbagai daerah mulai melakukan langkah antisipasi dan adaptasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing, mengingat dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata.

Ardhasena mengungkapkan, hingga pertengahan Juni, sekitar 37,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 47,16 persen wilayah telah mengalami curah hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin meluas pada bulan-bulan mendatang. BMKG memproyeksikan lebih dari 80 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal sepanjang Juli hingga Oktober.

Adapun puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September. BMKG, kata Ardhasena, akan terus memantau perkembangan iklim regional maupun global serta memperbarui informasi prakiraan setiap 10 hari sekali.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...