Survei Deloitte: Minat Mobil Listrik Naik, Minat Mobil Bensin Turun Paling Tajam
Minat konsumen Indonesia terhadap kendaraan listrik dan hibrida terus meningkat. Survei terbaru Deloitte menunjukkan 42 persen responden mempertimbangkan membeli kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV), tertinggi ketiga di Asia Tenggara setelah Thailand dan Singapura.
Di saat yang sama, minat terhadap mobil konvensional bermesin pembakaran internal (ICE) turun paling tajam di kawasan: tujuh persentase poin dibandingkan tahun lalu. Ini berkebalikan dengan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, yang justru mencatat kenaikan preferensi terhadap kendaraan ICE dibandingkan tahun lalu.
Hasil survei tersebut termuat dalam laporan 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives. Survei melibatkan 6.013 konsumen di enam negara Asia Tenggara, termasuk lebih dari 1.000 responden di Indonesia.
Di Indonesia, faktor utama yang mendorong minat terhadap NEV adalah biaya bahan bakar yang lebih rendah (53 persen), kecepatan pengisian daya (50 persen), pengalaman berkendara (48 persen), serta ketersediaan stasiun pengisian daya (47 persen).
Meski demikian, kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Deloitte mencatat banyak konsumen masih khawatir terhadap akses pengisian daya.
Sebanyak 61 persen calon pembeli NEV berharap dapat mengisi daya kendaraan di rumah. Namun, hanya 54 persen yang telah memiliki fasilitas pengisian daya residensial, sedangkan 34 persen sama sekali belum memilikinya.
Selain itu, 90 persen responden menyebut biaya sebagai pertimbangan penting dalam memilih stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Persentase ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.
Automotive Sector Leader Deloitte Asia Tenggara Lee Seong Jin mengatakan tingginya sensitivitas konsumen Indonesia terhadap biaya membuat rencana pemerintah memberikan insentif kendaraan listrik menjadi langkah yang tepat untuk mendorong adopsi NEV. Namun, menurutnya, insentif saja tidak cukup.
"Para pengendara masih menanyakan hal-hal praktis mengenai tempat pengisian daya dan ketersediaan infrastrukturnya saat dibutuhkan. Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan solusi tingkat ekosistem yang melampaui sekadar urusan harga," ujarnya, dikutip dari siaran pers, Jumat (17/7).
Loyalitas Konsumen Otomotif RI Rendah dan Ketertarikan pada Digitalisasi Tinggi
Persaingan di pasar otomotif Indonesia masih terbuka lebar. Laporan Delloite menunjukkan sebanyak 69 persen responden berencana beralih ke merek lain saat membeli kendaraan berikutnya, tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Niat tersebut tercermin dalam perilaku konsumen saat ini. Sebanyak 41 persen responden telah berganti merek ketika membeli kendaraan yang digunakan sekarang. Angka ini merupakan tingkat perpindahan merek (switching rate) tertinggi di kawasan.
Dalam memilih kendaraan, konsumen Indonesia paling mempertimbangkan kualitas produk (68 persen), performa kendaraan (66 persen), dan harga (54 persen).
Laporan tersebut juga menunjukkan konsumen otomotif Indonesia termasuk yang paling antusias terhadap digitalisasi kendaraan. Sebanyak 78 persen responden menyatakan berminat menggunakan fitur personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat menyesuaikan suhu, posisi kursi, hingga pencahayaan secara otomatis. Angka ini menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam.
Kesediaan membayar layanan kendaraan terhubung (connected vehicle services) juga cukup tinggi. Sebanyak 90 persen responden bersedia membayar fitur pelacakan antipencurian, diikuti layanan bantuan darurat (85 persen), laporan kondisi kendaraan (81 persen), serta fitur deteksi otomatis kendaraan dan pejalan kaki (76 persen).
Consumer Industry Leader Deloitte Indonesia Roy David Kiantiong mengatakan pasar otomotif Indonesia semakin dinamis. Menurutnya, konsumen semakin terbuka terhadap elektrifikasi, tetapi masih dibayangi kekhawatiran mengenai proses adopsinya. Di sisi lain, mereka juga termasuk yang paling adaptif terhadap teknologi digital di kawasan, meski loyalitas terhadap merek cenderung rendah.
"Perusahaan yang mampu menyelaraskan strategi, teknologi, dan kemitraan ekosistem, mulai dari kepemilikan, servis berkala, pengisian daya, hingga keterlibatan digital, akan berada di posisi terbaik untuk memenangkan pasar Indonesia," ujarnya.
