Bank Sentral Inggris Resmi Tolak Obligasi Batu Bara Sebagai Agunan Pinjaman
Bank of England “diam-diam” memperketat kebijakan terhadap aset berbasis batu bara termal. Mulai Oktober mendatang, bank sentral Inggris itu tidak lagi menerima obligasi yang terkait dengan industri batu bara termal sebagai agunan (collateral) bagi bank-bank komersial yang mau meminjam dana.
Mengutip laporan The Guardian, Bank of England tidak mengumumkan kebijakan ini secara besar-besaran. Meskipun, kebijakan ini disebut lebih ketat dibandingkan yang diterapkan sebagian besar bank sentral di negara-negara Barat, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB). Kebijakan itu hanya dipublikasikan melalui situs resminya pada awal Juni.
Selama ini, Bank of England rutin menyediakan pinjaman bagi bank-bank komersial seperti Barclays, Lloyds, NatWest, dan HSBC untuk memastikan transaksi keuangan serta operasional perbankan tetap berjalan lancar.
Sebagai jaminan, bank-bank tersebut harus menyerahkan aset berupa obligasi. Apabila gagal melunasi pinjaman, obligasi itu akan menjadi milik bank sentral.
Kebijakan terbaru Bank of England ini disambut sebagai kemenangan oleh kelompok pegiat iklim. Para aktivis berharap kebijakan ini akan mendorong bank-bank komersial mengurangi kepemilikan aset yang berkaitan dengan batu bara termal dalam neraca keuangan mereka.
"Ini sinyal kuat dari bank sentral kepada pelaku pasar," ujar Manajer Senior Kebijakan dan Advokasi Positive Money Ellie McLaughlin, dikutip dari The Guardian, Senin (20/7).
Dalam dokumen kebijakannya, Bank of England menjelaskan bahwa “perusahaan batu bara termal bisa menghadapi potensi risiko keuangan seiring penyesuaian ekonomi menuju target nol emisi bersih (net zero)”. Bank sentral juga menyatakan akan menerapkan pemotongan nilai (haircut) terhadap obligasi dari sektor-sektor lain yang relevan sebagai langkah “untuk melindungi bank sentral dari risiko keuangan”.
Ellie mengatakan efektivitas kebijakan Bank of England masih akan bergantung pada implementasinya.
"Kita masih harus melihat bagaimana Bank of England menghitung besaran haircut untuk mencerminkan risiko iklim. Selain itu, larangan ini seharusnya tidak hanya berlaku untuk batu bara termal, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas yang memang selalu berdampak buruk terhadap lingkungan," kata dia. Menurut dia, hal itu termasuk ekspansi bahan bakar fosil maupun deforestasi.
"Kebijakan ini cukup signifikan, tetapi masih banyak ruang bagi Bank of England untuk melangkah lebih jauh," ujarnya.
Menurut data organisasi nirlaba yang berfokus pada pembiayaan berkelanjutan, Reclaim Finance, yang dirilis pada September tahun lalu, sekitar 150 lembaga keuangan terbesar di dunia juga telah menerapkan berbagai pembatasan dalam membiayai atau berbisnis dengan industri batu bara termal.
