AS Restui Uji Coba Cermin Antariksa, Matahari Buatan Bisa Mengorbit Tahun Ini

Martha Ruth Thertina
21 Juli 2026, 10:14
Pemandangan matahari terbenam akhir tahun 2025 di Pantai Meninting, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (31/12/2025). Ide matahari buatan mendekati kenyataan. Startup Reflect Orbital berencana meluncurkan cermin raksasa ke antariksa yang bisa men
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/tom.
Pemandangan matahari terbenam akhir tahun 2025 di Pantai Meninting, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (31/12/2025). Ide matahari buatan mendekati kenyataan. Startup Reflect Orbital berencana meluncurkan cermin raksasa ke antariksa yang bisa menerangi wilayah bumi yang sedang gelap.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ide menghadirkan "matahari buatan" pada malam hari semakin mendekati kenyataan. Otoritas Amerika Serikat pekan lalu menyetujui misi peluncuran cermin raksasa ke luar angkasa yang akan memantulkan sinar Matahari ke wilayah bumi yang sedang gelap.

Merujuk pada laporan Nature, startup bernama Reflect Orbital menargetkan untuk menempatkan 50.000 cermin di orbit pada 2035. Jika terealisasi, teknologi tersebut diklaim mampu menghadirkan pencahayaan seterang tengah hari di lokasi tertentu sesuai kebutuhan.

Perusahaan yang berbasis di Hawthorne, California, itu menyebut teknologinya dapat menyediakan "energi bersih yang melimpah sesuai permintaan". Sebab, pantulan cahaya dari orbit diharapkan dapat memperpanjang waktu operasional pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada malam hari, meningkatkan produktivitas pertanian, hingga membantu penanganan bencana.

Namun, proyek ini juga memicu kekhawatiran publik antara lain di kalangan astronom. Mereka menilai ribuan cermin yang memantulkan cahaya dari orbit berpotensi mengganggu kerja teleskop sekaligus memperburuk polusi cahaya.

"Jika ada 50.000 satelit seperti itu, kemungkinan besar itu akan menjadi akhir astronomi berbasis darat, setidaknya astronomi optik," kata Wakil Direktur Kebijakan Publik American Astronomical Society, Roohi Dalal, dikutip dari Nature, Senin (21/7).

Reflect Orbital membantah anggapan tersebut. Perusahaan mengklaim telah merancang sistem pengamanan agar pantulan cahaya tidak mengganggu pengamatan astronomi. Menurut perusahaan, masukan dari komunitas ilmiah juga telah digunakan untuk menyempurnakan desain satelit dan rencana operasinya.

Satelit Pembawa Cermin Pertama Meluncur Tahun Ini

Setelah memperoleh izin dari Federal Communications Commission (FCC) pada 9 Juli, Reflect Orbital berencana meluncurkan satelit pertamanya, Eärendil-1, pada akhir tahun ini.

Satelit seukuran kulkas mini itu akan ditempatkan di orbit sekitar 625 kilometer di atas permukaan Bumi. Setelah tiba di orbit, satelit akan membuka cermin berukuran lapangan tenis dengan ketebalan hanya sekitar 1/28 rambut manusia.

Cermin tersebut akan diarahkan untuk memantulkan sinar Matahari ke sejumlah lokasi uji di Bumi. Uji coba perdana ditargetkan mampu menerangi area seluas sekitar 24 kilometer persegi. Pancaran cahaya itu juga dapat dimatikan kapan pun diperlukan.

"Satelit pertama ini akan menjadi ajang pembuktian. Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi ini bisa memberi manfaat tanpa menyinari tempat-tempat yang tidak menginginkan cahaya," kata pendiri sekaligus CEO Reflect Orbital, Ben Nowack, seperti dikutip Nature.

Menurut Ben, perusahaannya telah mengembangkan ratusan prototipe cermin. Reflect Orbital juga berencana menggelar lebih banyak misi uji dan menggandeng peneliti independen untuk mengkaji dampak teknologi tersebut.

Tantangan Membuat Cermin Terbentang dan Awet

Meski optimistis, Ben mengakui proyek ini sangat menantang. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan cermin dapat terbuka sempurna di luar angkasa. 

Menurut Senior Technical Fellow di LeoLabs Darren McKnight, kesalahan kecil pada perangkat keras maupun perangkat lunak dapat menyebabkan mekanisme pembukaan cermin gagal.

"Justru hal-hal sederhana yang sering menjadi penyebab kegagalan," kata Darren seperti dikutip Nature.

Setelah cermin berhasil dibuka, ancaman berikutnya datang dari lingkungan antariksa. Pada ketinggian orbit tersebut, satelit akan terus dihantam serpihan sampah antariksa berukuran milimeter hingga sentimeter. Benturan berulang dapat menurunkan performa cermin yang sangat tipis dan sensitif.

Selain itu, orbit rendah Bumi juga memiliki konsentrasi oksigen atomik yang tinggi. Zat ini dapat mengikis permukaan satelit pembawa cermin ini.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...