El Nino Tak Melulu Berdampak Buruk, Ini Sederet Sektor yang Diuntungkan
Kemarau yang lebih panjang dan kering akibat El Nino memunculkan kekhawatiran bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang menantang bagi sektor pangan, air bersih, hingga energi. Namun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, El Nino tidak hanya membawa dampak negatif.
Direktur Lingkungan Hidup Badan Perencanaa Pembangunan Nasional (Bappenas) Nizhar Marizi mengatakan, El Nino kuat dapat menyebabkan penurunan produktivitas beberapa komoditas pertanian dan perkebunan seperti padi, kelapa sawit, dan kopi. Tapi, terdapat beberapa komoditas yang tumbuh baik saat musim kering.
“Dengan pengelolaan tertentu dan masih tetap menjaga ketersediaan air, untuk beberapa komoditas, ini justru bisa mendukung perkembangannya lebih baik, seperti palawija, hortikultura, dan tebu,” ujar Nizhar dalam dialog bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat, di Jakarta (4/8).
Periode El Nino juga menjadi momentum yang tepat untuk mengoptimalkan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). “Karena memang tutupan awannya berkurang dan intensitas sinar mataharinya lebih tinggi,” ucap dia menambahkan.
Di sektor perikanan, produktivitas lele, nila, dan udang payau diperkirakan akan tertekan akibat menurunnya ketersediaan air. Begitu pun produktivitas rumput laut karena peningkatan suhu dan perubahan kualitas air. Namun, El Nino berpotensi membawa dampak positif melalui fenomena upwelling di sejumlah perairan, terutama di Indonesia timur.
Fenomena upwelling terjadi ketika massa air laut dari lapisan dalam naik ke permukaan. Air tersebut lebih dingin dan kaya nutrien sehingga memicu pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut. Dampaknya, hasil perikanan tangkap di sejumlah wilayah berpotensi meningkat.
Cuaca yang lebih kering juga mendorong proses evaporasi lebih optimal sehingga meningkatkan produksi garam.
El Nino Bisa Bertahan Hingga Mei 2027
BMKG memprediksi fenomena iklim El Nino bisa bergerak dari level kuat ke sangat kuat alias super El Nino. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, anomali suhu permukaan laut Samudra Pasifik Mei-Juli menunjukkan El Nino sudah berada di level kuat.
“El Nino dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) +1,59 berada pada posisi kuat, yang berpotensi menjadi sangat kuat,” kata Faisal.
El Nino bisa saja aktif hingga Mei 2027. “Tapi bukan berarti kita kemarau sampai Mei,” ujarnya. Curah hujan rendah dan sangat rendah umumnya terjadi pada Agustus-September. Sedangkan musim hujan dimulai pada Oktober atau November 2026.
Faisal menjelaskan bahwa El Nino kuat atau sangat kuat berisiko membuat kemarau lebih panjang, curah hujan turun, hingga melonjaknya suhu udara. Suhu udara yang lebih panas kemungkinan bertahan hingga 2027.
