Api Kembali Mengintai Rumah Orangutan: Pelajaran dari El Nino 2015
Orangutan hidup di tengah ancaman api. Seiring peringatan Hari Orangutan Internasional pada 19 Agustus, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Sumatra dan Kalimantan, mengancam habitat satwa endemik Indonesia tersebut.
Pekan lalu, kebakaran bahkan mendekati pusat rehabilitasi orangutan Kalimantan di Ketapang, Kalimantan Barat. Api kini telah dikendalikan, tetapi ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.
Bagi lembaga non-profit yang fokus pada konservasi orangutan di Kalimantan, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, situasi ini mengingatkan pengalaman di tahun super El Nino 2015-2016.
Ketika itu, karhutla menghancurkan 266 hektare area reforestasi di pusat rehabilitasi orangutan Kalimantan Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Di bentang alam Mawas, Kalimantan Tengah, sekitar 15.442 hektare habitat alami orangutan Kalimantan turut rusak.
CEO BOS Foundation Jamartin Sihite mengatakan dampak kebakaran besar dirasakan di hampir seluruh aspek konservasi. “Mulai dari hilangnya habitat, meningkatnya jumlah orangutan yang harus diselamatkan, hingga terganggunya operasional rehabilitasi,” kata Jamartin, dikutip dari laman resmi BOS Foundation pada Kamis (20/8).
Masalahnya tak berhenti ketika api padam. Pemulihan ekosistem membutuhkan waktu panjang. Kebakaran menghilangkan sumber pakan orangutan dan mendorong satwa tersebut keluar dari habitatnya, bahkan mendekati wilayah yang dihuni atau digunakan manusia.
Di titik ini, ancaman lain muncul: konflik antara manusia dan orangutan.
Pada 2015, api juga sempat mendekati pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah. Api berhasil dikendalikan, tetapi asap membuat BOS Foundation harus tetap beroperasi di tengah kualitas udara berbahaya selama lebih dari dua bulan.
Arsip BOS Foundation mencatat puluhan orangutan diselamatkan dari habitat yang rusak atau terbakar. Sebanyak 76 individu di antaranya berasal dari kawasan konservasi Mangkutub, Kalimantan Tengah.
“Ini merupakan salah satu operasi penyelamatan orangutan terbesar yang pernah dilakukan oleh BOS Foundation,” demikian dikutip dari laman resminya.
Penyelamatan orangutan dari lokasi kebakaran bukan perkara sederhana. Pemindahan satwa dalam kondisi darurat tetap harus mempertimbangkan daya dukung habitat baru, potensi kompetisi, kemampuan adaptasi, hingga peluang keberhasilan dalam jangka panjang.
Populasi Kritis
Tekanan akibat kebakaran menjadi semakin serius karena populasi orangutan Indonesia sendiri sudah berada di ambang kepunahan.
Indonesia merupakan rumah bagi tiga spesies orangutan yang berstatus critically endangered atau kritis terancam punah. Ketiganya hanya ditemukan di Indonesia: orangutan Sumatra di Pulau Sumatra, orangutan Tapanuli di ekosistem Batang Toru, dan orangutan Kalimantan di Pulau Kalimantan.
Setelah orangutan Sumatra dan Tapanuli terdampak banjir bandang pada akhir tahun lalu, kini keduanya menghadapi ancaman api bersama orangutan Kalimantan.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, karhutla telah menghanguskan lebih dari 200 ribu hektare lahan di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 38,3 ribu hektare. Kebakaran juga tercatat di Kalimantan Selatan sekitar 8 ribu hektare, Kalimantan Tengah 7,6 ribu hektare, Kalimantan Timur 2,7 ribu hektare, dan Kalimantan Utara sekitar 400 hektare.
Di tengah meluasnya kebakaran, populasi orangutan Kalimantan yang menjadi sasaran konservasi juga tidak besar. Data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) pada 2016 memperkirakan populasinya sekitar 57.350 individu.
Sementara itu, survei Kementerian Kehutanan bersama lembaga riset, akademisi, dan organisasi nonpemerintah pada 2021 mencatat hanya tersisa 11.694 individu orangutan Sumatra dan 716 individu orangutan Tapanuli.
Angka tersebut belum memperhitungkan potensi penurunan populasi akibat banjir dan tanah longsor pada akhir 2025.
Antisipasi Api Sebelum Liar
Pengalaman satu dekade lalu membuat BOS Foundation tidak ingin sekadar menunggu kebakaran datang. Pendekatan konservasi kini diarahkan pada kesiapsiagaan: mencegah kebakaran, mendeteksinya lebih awal, dan memastikan kemampuan pemadaman tersedia sebelum keadaan berubah menjadi darurat.
“Kami terus meningkatkan upaya pencegahan, deteksi dini, kapasitas pemadaman, serta bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra agar risiko yang mungkin muncul akibat El Nino dapat diminimalkan,” ujar Jamartin.
Pemantauan titik panas atau hotspot dilakukan setiap hari, terutama di wilayah kerja yang rawan karhutla. Berbagai sumber data digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin sehingga bisa segera ditindaklanjuti.
Teknologi juga menjadi bagian dari sistem tersebut. Selain satelit, drone, dan pengawasan jarak jauh, BOS Foundation memasang perangkat deteksi dini di sejumlah lokasi.
Kesiapan pemadaman dilakukan dari bawah: sumur bor, embung, kanal, pompa air, hingga akses menuju sumber air diperiksa secara berkala. Akses menuju lokasi juga diperbaiki agar tim dan peralatan dapat bergerak cepat ketika api muncul.
BOS Foundation juga membagikan peralatan pemadaman kepada desa-desa dampingan, memberikan pelatihan kepada masyarakat, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan di daerah.
Sebab bagi orangutan dan satwa liar lainnya, kebakaran bukan hanya persoalan berapa hektare hutan yang hangus, tapi hilangnya habitat dan porak-porandanya upaya konservasi bertahun-tahun.
