Kemenhut Catat Titik Panas Nasional Turun, Bukan Berarti Karhutla Terkendali
Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa jumlah titik panas atau hotspot menunjukkan penurunan. Ini berdasarkan pemantauan pada 19 dan 20 Agustus.
Berdasarkan data SiPongi, jumlah hotspot turun 56 persen dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026. Data SiPongi bersumber dari pemantauan Satelit Terra-Aqua NASA pada tingkat kepercayaan menengah dan tinggi, yang dihimpun hingga pukul 23.59 WIB setiap harinya
“Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif dalam pemantauan karhutla. Namun, kondisi ini belum menunjukkan bahwa seluruh kebakaran telah padam ataupun risiko karhutla telah berakhir,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi dalam siaran pers, dikutip Sabtu (22/8).
Ristianto mengatakan, penurunan titik panas terbanyak berada di tiga provinsi Kalimantan. Pertama, di Kalimantan Barat, jumlah hotspot berkurang dari 784 titik pada 19 Agustus menjadi 82 titik pada 20 Agustus.
Kedua, di Kalimantan Tengah, hotspot turun dari 694 menjadi 22 titik. Ketiga, di Kalimantan Selatan, hotspot berkurang dari 85 titik menjadi 12 titik.
“Secara keseluruhan, jumlah hotspot di ketiga provinsi tersebut turun dari 1.563 menjadi 116 titik atau berkurang sekitar 92,6 persen dalam satu hari,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan citra Satelit Himawari-9 BMKG pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan serta Kalimantan. Asap terbawa oleh pola angin hingga meluas ke wilayah sekitarnya.
Karhutla Terus Membayangi di Tengah Cuaca Kering
Ristianto mengatakan, kewaspadaan masih diperlukan meski jumlah hotspot turun. Sebab, kondisi cuaca kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan informasi BMKG yang diperbarui pada 21 Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau.
Sebanyak 90,79 persen wilayah Indonesia dilaporkan mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 87,28 persen wilayah mengalami curah hujan bawah normal.
Kondisi ini berlangsung sejalan dengan fenomena El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole atau IOD yang berada dalam fase positif. Secara umum, kedua fenomena tersebut membuat musim kemarau semakin kering.
Ristianto mengingatkan agar masyarakat dan pelaku usaha tidak melakukan pembukaan dan pengolahan lahan dengan cara membakar. "Aktivitas yang dapat memicu api juga perlu dihindari, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan wilayah yang mengalami kondisi kering berkepanjangan,” ucapnya.
