Pemanasan Global, Gletser Himalaya, dan Banjir yang Mengintai Nepal
Di tengah suhu bumi yang semakin panas, gletser di Pegunungan Himalaya menyimpan kengerian bagi penduduk Nepal dan Tibet, Cina. Longsornya gletser menjadi penyebab banjir bandang hebat pada 26 Agustus yang menyebabkan ratusan orang tewas atau hilang.
Banjir bermula dari runtuhnya bagian gletser di Distrik Rasuwa, Nepal, di lereng Himalaya dekat perbatasan Tibet, Cina. Material es, batu, dan sedimen kemudian masuk ke Sungai Lhende dan memicu banjir bandang yang berdampak hingga Gyirong, Tibet.
Semula, runtuhnya gletser diduga dipicu oleh gempa, namun dalam analisis terbaru, United States Geological Survey (USGS) menyebut gempa justru terjadi karena longsor. Berbagai video yang beredar menunjukkan detik-detik air bah menerjang bangunan, orang, dan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Selain runtuhnya gletser secara langsung, kawasan Nepal-Tibet menghadapi risiko glacial lake outburst flood (GLOF), yakni banjir yang terjadi ketika danau glasial jebol. Danau glasial dapat terbentuk atau membesar akibat pencairan gletser.
Merujuk publikasi UNDP pada 2025, terdapat 47 danau glasial di Nepal yang dikategorikan berpotensi membahayakan. Sejak 1970-an, Nepal telah mengalami 26 kejadian GLOF. Risiko tersebut diproyeksikan meningkat, baik dari sisi frekuensi maupun intensitas, seiring perubahan kondisi iklim.
"GLOF dapat memicu banjir besar, longsor, dan aliran lumpur yang mengancam kehidupan serta infrastruktur, pertanian, pariwisata, dan pembangkit listrik tenaga air," demikian tertulis dalam situs UNDP.
Teranyar, banjir yang diduga akibat jebolnya danau glasial terjadi pada 8 Juli 2025. Banjir menghancurkan jembatan penghubung Nepal-Cina sehingga mengganggu perdagangan lintas negara. Setidaknya 11 orang meninggal dan 18 orang hilang akibat kejadian ini.
Untuk mengurangi risiko serupa, Nepal menjalankan proyek baru dengan dukungan pendanaan US$36 juta dari Green Climate Fund (GCF). Proyek tersebut mencakup penurunan ketinggian air di empat danau glasial prioritas, pembangunan sistem peringatan dini, serta penerapan solusi berbasis ekologi untuk melindungi ekosistem pegunungan dan masyarakat di wilayah hilir.
